Perjuangan Ibadah Ramadan di Inggris
- 25 Feb 2026 07:50 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Inggris - Bagi banyak mahasiswa Indonesia di luar negeri, Ramadan bukan sekadar ritual ibadah, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan emosional dalam memaknai ulang arti kehidupan. Hal inilah yang dirasakan oleh Zakiyatul Mufidah, mahasiswa doktoral di University of Birmingham, Inggris.
Tahun ini, Zakiyatul menjalani Ramadan di tengah kesibukannya menyelesaikan studi PhD tingkat akhir, sekaligus menjalankan peran sebagai istri dan ibu. Meski banyak yang menganggap berpuasa di Eropa terasa berat karena durasi siang yang panjang, Zakiyatul mengungkapkan kondisi yang berbeda pada tahun ini.
"Tahun ini Ramadan jatuh di musim dingin. Waktu puasa justru lebih pendek dan Maghrib datang lebih cepat. Secara fisik terasa lebih ringan," ungkapnya.
Perbedaan yang paling mencolok dirasakan Zakiyatul adalah suasana lingkungan. Jika di Indonesia Ramadan identik dengan deretan penjual kolak dan gorengan di setiap sudut jalan, di Birmingham, suasana berjalan normal seperti hari-hari biasa.
Ketiadaan hiruk pikuk khas tanah air ini justru memberikan ruang refleksi yang lebih dalam bagi Zakiyatul. Ramadan menjadi pengalaman yang lebih sunyi dan personal.
Di tanah rantau, definisi kemewahan mengalami pergeseran makna. Zakiyatul menceritakan bagaimana makanan Indonesia yang di tanah air sangat mudah dan murah didapat, menjadi barang "mewah" di Inggris.
Mencari daun pandan, santan, atau bumbu tertentu memerlukan usaha ekstra karena harga yang mahal dan ketersediaan yang terbatas. Sepiring makanan Indonesia saat berbuka bukan lagi sekadar menu, melainkan simbol rindu, usaha, dan cinta melalui proses memasak yang memakan waktu dan tenaga.
Sebagai mahasiswa tingkat akhir, kesehatan tubuh dan fokus pikiran untuk menulis tesis adalah bentuk kemewahan yang sangat disyukurinya.
Ramadan di perantauan juga mengajarkan Zakiyatul untuk lebih menghargai hal-hal kecil bersama keluarga intinya. Sahur di tengah dinginnya musim dingin dan doa bersama di dapur yang hangat menjadi momen berharga yang menggantikan ketiadaan meja makan besar khas keluarga di Indonesia.
"Ramadan di United Kingdom mengajarkan saya bahwa mewah bukan berarti berlimpah. Mewah adalah ketika kita merasa cukup, ketika yang sederhana terasa istimewa, dan ketika yang sulit justru mendekatkan kita pada syukur," katanya.
Bagi Zakiyatul, esensi Ramadan di tanah rantau pada akhirnya bukan tentang apa yang tersaji di atas meja, melainkan tentang apa yang tumbuh dan berkembang di dalam jiwa.
(Kontributor Muslimat NU DIY : Zakiyatul Mufidah. Mahasiswa S3 di University of Birmingham, PCI Muslimat NU, UK)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....