Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, Warisan Budaya Kekuatan Bangsa
- 25 Feb 2026 06:48 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) sudah diselenggarakan ke 21 di tahun ini. Ketua Pelaksana PBTY XXI, Jimmy Sutanto mengatakan sejak pertama digelar PBTY, panitia selalu meningkatkan mutu dari festival ini. Kegiatan ini merangkul semua unsur masyarakat tak terkecuali mahasiswa dari luar daerah bisa ikut tampil memeriahkan event ini.
PBTY juga sangat memperhatikan nilai toleransi. Di tahun ini penyelenggaraan bertepatan dengan bulan Ramadan, dimana semua masyarakat muslim menjalankan ibadah puasa. Sehingga panitia harus mensinkronkan waktu pertunjukan. Novita Dewi dari Divisi Humas PBTY XXI menambahkan jika hiburan yang ditampilkan tidak sekedar hiburan tetapi mengandung edukasi di dalamnya.
Rangkaian kegiatan PBTY XXI ini pun beragam. Salah satunya Karnaval Budaya atau yang biasa disebut Malioboro Imlek Karnaval yang akan digelar Sabtu, 28 Februari 2026. Karnaval ini selalu ditunggu oleh masyarakat. Karena bertepatan dengan Ramadan dimana masyarakat muslim menunaikan sholat tarawih sehingga pelaksanaan karnaval dimulai pukul 20.00 wib.
Event yang tak kalah menarik yaitu bazar yang diadakan di kampung Ketandan Malioboro Yogyakarta dan sebagian di Jalan Suryatmajan. Ada puluhan stand makanan untuk ngabuburit ketika buka puasa. Makanannya pun beragam, dari jajanan jadul hingga kekinian, halal food dan juga non halal. Ada juga panggung utama yang memfasilitasi masyarakat untuk menampilkan seni budaya daerah ataupun nasional.
Pada hari Jum’at 27 Februari 2026 digelar pertunjukan wayang kain atau potehi. Dari tahun ke tahun peminat pertunjukan ini banyak. Mulai dari orang tua hingga anak muda. Pertunjukan ini hanya digelar setahun sekali di Pekan Budaya Tionghoa. Untuk pertunjukan wayang potehi kali ini akan dipandu oleh Pak Toni Harsono. Seorang ahli di bidang wayang potehi.
Di bidang pendidikan digelar seminar yang diselenggarakan di Rumah Budaya Tionghoa pada Sabtu, 28 Februari 2026. Rumah Budaya Tionghoa berada di Jalan Ketandan Selatan. Nantinya akan dipaparkan pengetahuan tentang batik yang akan disampaikan oleh Ibu Indrawati Gondowinoto. Bu In, sapaan akrabnya adalah pakar batik. Sosok yang gigih melestarikan batik Tionghoa. Ada pula pengetahuan tentang Buku Catatan Cindo. Sejarah bagaimana orang Tionghoa datang ke Indonesia.
Jimmy Sutanto menambahkan sejarah PBTY diambil dari rangkaian Cap Go Meh. Semula digelar 5 hari di tahun 2017. Atas usulan Sri Sultan Hamengku Buwono X atau Ngarsa Dalem diubah menjadi 7 hari. Sehingga untuk PBTY XXI ini dimulai tanggal 25 Februari sampai tanggal 03 Maret 2026 (7 hari berturut-turut). Ini adalah hal yang Istimewa karena merupakan tahun baru Imlek terpanjang di Indonesia.
Event yang selalu ditunggu dari perayaan PBTY ini adalah adanya penampilan Liong atau Barongsai. Pertunjukan ini digelar ketika pembukaan dan penutupan PBTY di Kampung Ketandan, timur Malioboro Yogyakarta. Hal ini diungkapkan Novita Dewi ketika menutup dialog Moderasi Beragama di Pro 1 RRI Yogyakarta Selasa, 24 Februari 2026.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....