Waspada Ancaman Parasit Protozoa pada Kucing
- 24 Feb 2026 11:23 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Interaksi akrab antara pemilik dan kucing kini menuntut kewaspadaan baru terhadap ancaman biologis berskala mikroskopis. Parasit Protozoa hadir sebagai organisme bersel satu yang mampu menyusup ke dalam sistem tubuh kucing secara senyap, sering kali tanpa memicu gejala dramatis di tahap awal.
Melalui siaran "Mbangun Desa" di Pro4 RRI Yogyakarta Jumat, 20 Februari 2026, dari Departemen parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM Dr. drh. Vika Ichsania Ninditya, mengatakan bahwa kompleksitas parasit ini memerlukan ketelitian diagnosa yang tidak bisa dilakukan secara visual.
"Protozoa itu semuanya tidak terlihat secara kasat mata. Jadi harus pakai mikroskop untuk pemeriksaannya untuk tahu itu Protozoa atau tidak. Protozoa juga bukan bakteri dan juga bukan virus, beda," ujar Dr. Vika.
Menurut Dr. Vika bahwa invasi Protozoa pada kucing menyerang dua target vital, yakni sistem pencernaan (gastrointestinal) dan sistem sirkulasi darah. Spesies seperti Giardia dan Isospora bertindak sebagai agen penyebab gangguan pencernaan kronis yang memicu gejala diare intermiten.
Kondisi ini sangat menjebak bagi pemilik kucing, kotoran hewan sering kali terlihat memadat secara normal selama beberapa hari memberikan kesan palsu bahwa kucing telah sembuh sebelum kemudian kembali mencair secara berulang dalam periode yang lama. Fenomena ini merupakan bagian dari strategi biologis yang cerdas agar parasit dapat terus bereplikasi tanpa mematikan inangnya secara mendadak.
"Karena Protozoa itu dia mencoba bertahan di dalam tubuh si kucing, nah kemudian dia tidak mau si kucing itu sebenarnya sampai mati, karena kalau dia mati ya Protozoa-nya juga ikut mati," kata Vika.
Namun, kewaspadaan tetap menjadi kunci karena malabsorpsi nutrisi yang berlangsung lama akibat parasit ini pada akhirnya akan memicu dehidrasi hebat yang fatal jika tidak ditangani secara professional, Jalur transmisi parasit ini sangat dipengaruhi oleh standar higienitas lingkungan, terutama pemberian air minum mentah atau kebiasaan kucing memangsa hewan liar seperti tikus dan cicak, Selain itu sifatnya yang zoonosis menuntut pemilik untuk selalu menjaga kebersihan tangan setelah berinteraksi dengan kucing yang sedang diare.
Sebagai langkah preventif jangka panjang, Dr. Vika menghimbau pemilik untuk menjaga manajemen nutrisi dengan memberikan pakan khusus kucing dan menghindari pemberian nasi, karena sistem pencernaan kucing sebagai karnivora sejati tidak dirancang untuk mengolah karbohidrat. Melalui penyediaan air minum matang dan pengecekan rutin di Rumah Sakit Hewan UGM, risiko penyebaran parasit Protozoa dapat ditekan demi mewujudkan lingkungan hunian yang sehat bagi hewan maupun pemiliknya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....