Sepuluh Kalurahan di Gunungkidul Jadi Prioritas Penanganan Stunting
- 24 Feb 2026 08:39 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Gunungkidul - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menetapkan 10 kalurahan sebagai lokasi prioritas penanganan stunting pada tahun 2026. Berbagai program akan difokuskan di wilayah tersebut guna menekan jumlah balita stunting agar tumbuh kembang anak lebih optimal.
Plt Kepala Badan Perencanaan Riset dan Inovasi Daerah (Baperinda) Gunungkidul Chairul Agus Mantara mengatakan, penetapan tersebut berdasarkan SK Bupati Gunungkidul Nomor 147 Tahun 2025 tentang kalurahan fokus prioritas penanggulangan stunting 2026. Sepuluh kalurahan yang masuk daftar antara lain Pacarejo, Semanu, Dadapayu, dan Ngeposari di Kapanewon Semanu.
Selain itu, Kalurahan Semin di Kapanewon Semin, kemudian Ngalang, Tegalrejo, dan Hargomulyo di Kapanewon Gedangsari, serta Kemadang di Kapanewon Tanjungsari, dan Giripurwo di Kapanewon Purwosari.
“Penentuan lokus dilakukan berdasarkan sejumlah indikator, seperti jumlah balita sangat pendek dan pendek, prevalensi stunting, jumlah ibu hamil dengan kekurangan energi kronik (KEK), prevalensi ibu hamil KEK, persentase unmet need, hingga akses rumah tangga terhadap air minum layak,” ujarnya, Selasa, 24 Februari 2026.
Ia menegaskan, percepatan penurunan stunting memerlukan sinergi lintas sektor, mulai dari organisasi perangkat daerah, pemerintah kalurahan dan kapanewon, organisasi masyarakat, pihak swasta, akademisi, hingga masyarakat.
“Setiap OPD nantinya akan menjalankan program unggulan masing-masing, namun tetap mengacu pada program strategis bupati. Rincian program masih menunggu pembahasan lanjutan, tetapi secara umum diarahkan pada upaya percepatan pencegahan dan penanganan stunting,” katanya.
Agus menambahkan, tren stunting di Gunungkidul menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data SSGI/SKI, prevalensi stunting tercatat 23,5 persen pada 2022, turun menjadi 22,2 persen pada 2023, dan kembali menurun menjadi 19,7 persen pada 2024.
Sementara itu, Lurah Giripurwo, Supriyadi menambahkan, pihaknya telah menerima SK penetapan wilayahnya sebagai lokus penanganan stunting. Dari sekitar 450 balita di kalurahan tersebut, sebanyak 31 anak teridentifikasi stunting berdasarkan data puskesmas.
“Penyebab stunting beragam, mulai dari pertumbuhan yang tidak maksimal, berat badan kurang, hingga pola asuh yang belum optimal. Selama ini, pemerintah kalurahan telah menjalankan berbagai upaya, seperti pemberian makanan tambahan mingguan, madu, obat-obatan, serta edukasi bagi orang tua,” ucapnya.
Menurutnya, program penanganan stunting akan terus berlanjut dengan dukungan anggaran desa. Dengan adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah, diharapkan pencegahan dan penanganan stunting ke depan semakin optimal sehingga anak-anak dapat tumbuh sehat sesuai usianya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....