Mengenal Bahaya Penyakit Parasit pada Kucing, Kenali Gejala dan Cara Menangani

  • 23 Feb 2026 08:46 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kesehatan hewan kesayangan, khususnya kucing, kini menjadi perhatian serius bagi masyarakat, terutama para pemilik hewan yang sering kali abai terhadap ancaman penyakit parasit. Masalah ini bukan sekadar persoalan gatal-gatal pada kulit, melainkan ancaman sistemik yang mampu menguras nutrisi hingga menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan protokol medis yang tepat.

Dalam sesi wawancara saat rekaman Siaran Mbangundesa yang disiarkan oleh RRI Pro4 Yogyakarta Jumat, 20 Februari 2026, Dr. drh. Vika Ichsania Ninditya, dosen Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), membedah secara komprehensif kompleksitas siklus hidup parasit pada kucing. Beliau menegaskan bahwa pemahaman masyarakat mengenai perbedaan ektoparasit (parasit luar) dan endoparasit (parasit dalam) sangat krusial dalam menentukan langkah pencegahan.

Menurut drh. Vika, ancaman yang paling sering dianggap remeh adalah scabies. Berbeda dengan kutu loncat yang ukurannya cukup besar untuk dilihat mata telanjang, penyebab scabies adalah tungau mikroskopis yang bersembunyi di bawah lapisan kulit. Pemilik sering kali baru menyadari infeksi setelah muncul luka atau keropeng yang merusak estetika dan kesehatan kulit anabul.

"Istilah parasit sendiri itu organisme yang dia menumpang hidup di organisme lain. Jadi selama hidupnya dia bergantung pada organisme lain. Ada yang di dalam tubuh organisme lain dan juga ada yang di luar. Ujar Vika. Nah, di kucing juga ada yang di luar tubuh kucing seperti scabies. Scabies itu ukurannya mikroskopis, jadi kalau secara kasat mata tidak bisa terlihat, tapi dampaknya bisa berupa lesi atau luka," kata drh. Vika dalam diskusi tersebut.

Tantangan utama dalam memutus rantai ektoparasit ini adalah lingkungan. Drh. Vika mengungkapkan sebuah fakta yang mengejutkan bagi banyak pemilik hewan: kutu yang menempel di tubuh kucing sebenarnya hanya mewakili sebagian kecil dari populasi parasit yang ada. Sekitar 80% populasi kutu justru berada di lingkungan sekitar, mulai dari karpet, sofa, hingga sela-sela lantai dalam bentuk telur, larva, atau pupa. Inilah yang menyebabkan infeksi sering kali muncul kembali meski kucing sudah dimandikan berkali-kali.

Beralih ke ancaman dari dalam, drh. Vika menyoroti bahaya cacing pita dan cacing gelang yang menyerang sistem pencernaan. Uniknya, penularan cacing pita ini ternyata memiliki keterkaitan erat dengan kutu loncat. Kucing yang sedang melakukan pembersihan diri atau grooming secara tidak sengaja menelan kutu yang membawa larva cacing. Di dalam usus, larva tersebut kemudian berkembang menjadi cacing dewasa yang menyerap sari makanan milik sang kucing.

"Parasit itu uniknya tidak mau hospes atau induknya itu sakit. Jadi biasanya dia jarang sekali menimbulkan gejala klinis kecuali kalau imun dari hospesnya turun atau jumlah parasitnya itu banyak di dalam tubuh kucingnya. Jika jumlahnya sudah sangat banyak, barulah muncul gejala klinis seperti lemas, tidak mau makan, hingga diare yang hebat," ujar Vika

Gejala klinis cacingan sering kali menyerupai malnutrisi kronis. Kucing akan memiliki tampilan perut yang buncit namun tulang punggungnya menonjol karena badannya kurus. Selain itu, gusi atau gingiva kucing yang memucat menjadi tanda kuat bahwa kucing mengalami anemia akibat darahnya dihisap oleh parasit internal tersebut. Kondisi ini sangat fatal bagi anak kucing (kitten) yang sistem imunnya belum terbentuk sempurna.

Melalui edukasi di siaran Bangun Deso ini, masyarakat diingatkan bahwa langkah preventif seperti pemberian obat cacing dan tetes kutu secara berkala menjadi kunci utama. Untuk kucing yang aktif di luar ruangan (outdoor), pemberian obat disarankan setiap dua bulan sekali guna menghalau risiko dari lingkungan liar. Sementara untuk kucing rumahan (indoor), kontrol rutin setiap tiga hingga enam bulan tetap diperlukan guna memastikan tidak ada parasit yang terbawa masuk ke dalam rumah.

Penanganan yang konsisten terhadap kebersihan kandang dan kontrol pakan, seperti mencegah kucing memakan tikus atau serangga, menjadi benteng pertahanan terakhir dalam menjaga kesehatan jangka panjang hewan peliharaan dari serangan parasit yang mematikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....