BPBD Gunungkidul Catat Puluhan Kejadian Bencana Hedrometeorologi

  • 18 Feb 2026 17:51 WIB
  •  Yogyakarta

RRI. CO.ID, Gunungkidul - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul mencatat puluhan kejadian bencana hidrometeorologi sepanjang pertengahan Februari 2026. Laporan situasi terbaru menyebutkan terdapat 46 kejadian bencana yang didominasi tanah longsor dan banjir.

Kepala BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan bencana dipicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat dan angin kencang pada Selasa, 17 Februari 2026.

“Curah hujan tinggi menyebabkan sejumlah wilayah mengalami banjir dan tanah longsor, terutama di kawasan perbukitan,” ujarnya, Rabu 18 Februari 2026.

Berdasarkan data BPBD, tercatat 9 kejadian banjir dan 37 tanah longsor. Bencana tersebut berdampak pada 165 warga dan 113 jiwa di antaranya mengungsi. Namun, seluruh kejadian ini tidak menimbulkan korban jiwa.

Wilayah terdampak tersebar di sejumlah kapanewon. Ngawen menjadi wilayah dengan kejadian longsor terbanyak, yakni 26 titik. Disusul Gedangsari dan Tegalrejo masing-masing 10 kejadian, serta Nglipar enam kejadian. Sementara itu, wilayah lain seperti Semin, Natah, hingga Tancep mencatat kejadian dalam jumlah lebih kecil.

“Dari sisi kerusakan, BPBD mencatat 24 rumah terdampak, 1 ruas jalan, dan 21 talud mengalami kerusakan. Total kerugian ditaksir mencapai Rp23 juta,” ucapnya.

Purwono menegaskan, pihaknya telah melakukan berbagai langkah penanganan.

“Tim Reaksi Cepat bersama unsur terkait langsung melakukan asesmen di lokasi. Kami juga menyalurkan bantuan logistik, peralatan, serta dukungan personel untuk mempercepat penanganan,” katanya.

Selain penanganan darurat, BPBD juga menyiapkan langkah pemulihan pascabencana melalui kerja bakti dan gotong royong warga, termasuk penanganan longsoran dan pembersihan material.

BPBD Gunungkidul mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras disertai angin kencang. Warga diminta memangkas pohon lapuk atau cabang berisiko tumbang, serta menghindari area rawan seperti lereng, tebing, dan aliran sungai saat cuaca ekstrem.

“Peringatan dini cuaca harus menjadi perhatian bersama. Kesiapsiagaan masyarakat sangat penting untuk meminimalkan risiko bencana,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....