Filosofi di Balik Jenama UII pada Transportasi Publik
- 18 Feb 2026 10:20 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Transportasi publik menjadi sarana yang menjangkau masyarakat banyak, seperti kereta api maupun bus trans. Jika anda bepergian menggunakan moda transportasi tersebut baik kereta api di Jawa ataupun Trans Jogja hingga Trans Jakarta, maka akan dijumpai branding dari Universitas Islam Indonesia (UII).
Langkah UII Yogyakarta ini ternyata bukan sekadar strategi pemasaran biasa, melainkan membawa misi filosofis yang mendalam. Baik dari kiprahnya, prestasinya, ataupun alumni yang sudah banyak menebar manfaat.
Rektor UII Fathul Wahid mengatakan, kehadiran jenama UII di ruang publik ini merupakan pesan kepada masyarakat luas bahwa universitas tertua di Indonesia ini, terus berkiprah dan mencetak alumni yang bermanfaat bagi bangsa. Sehingga diharapkan bisa menjadi pengambil keputusan saat akan menempung jenjang perguruan tinggi ke depannya.
"Kami ingin menunjukkan bahwa kami ada, kami berkiprah, dan punya prestasi melalui alumni yang menebar banyak manfaat. Harapannya, masyarakat akan terus ingat (UII) saat mengambil keputusan pendidikan bagi keluarga mereka," ujarnya, Senin, 17 Februari 2026.
Berbeda dengan universitas lain yang memilih menggunakan baliho-baliho yang terpasang, UII lanjut Fathul Wahid, memiliki alasan mendalam dalam pemilihan kereta api dan angkutan medium baik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) maupun Jakarta. Menurutnya, ada alasan ideologis di balik pemilihan tersebut.
"Kami punya filosofi, kami menyasar filosofi transportasi publik yang bisa diakses oleh banyak orang," katanya.
Universitas Islam Indonesia menganggap, bahwa transportasi publik merupakan ruang perjumpaan dan transportasi publik juga sebagai ikhtiar juga mengurangi polusi, apalagi konsumsi BBM ini merupakan energi yang tidak terbarukan. Di samping itu juga pemilihan lokasinya memiliki makna historis.
"Karena UII dulu lahir di Jakarta. Jadi kita itu ini pulang kampung kira-kira gitu. Di Jakarta dan kemarin ketika kami memasang iklan di kereta sampai ke Surabaya yaitu simbol," ucapnya.
Fathul Wahid juga masih mengkaji daerah-daerah lain untuk menghadirkan branding dari Universitas Islam Indonesia. Hanya saja saat ditanya keinginan untuk memiliki transportasi publik sendiri, Ia menepis dan memilih jalur kolaborasi daripada menguasai hulu hingga hilir.
"Kalau itu enggak lah, itu sudah kita berbagi tugas saja sama para pelaku. Kan nggak boleh memonopoli," ujarnya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....