Lumbung Mataraman Wukirsari Mampu Perkuat Ketahanan Pangan Desa
- 31 Jan 2026 19:07 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Bantul – Lumbung Mataraman merupakan salah satu program strategis yang digalakkan Pemda DIY untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Lewat Lumbung Mataraman, warga Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, pun menanam harapan bahwa upaya swasembada pangan yang dimulai dari desa ini dapat menyejahterakan.
Berbekal Dana Keistimewaan (Danais) DIY dan semangat gotong royong segenap masyarakat, seperti Gapoktan Wukirsari, taruna tani, petani milenial, PKK, LMPK dan lainnya, Tanah Kas Desa (TKD) seluas kurang lebih 5.000 meter persegi disulap warga Kalurahan Wukirsari menjadi satu kawasan Lumbung Mataraman. Mencakup pertanian, peternakan, dan perikanan, lumbung ini telah diresmikan pada Desember 2025 lalu.
Menariknya, pengelolaan kawasan lumbung mataraman ini juga sudah kekinian dengan memanfaatkan teknologi digital untuk membantu proses pertanian menjadi lebih efektif dan efisien.
Saat ditemui di Lumbung Mataraman Wukirsari, pada Rabu, 14 Januari 2026, Pengelola Lumbung Mataraman Wukirsari, Beni Ristiawan mengungkapkan, lahan pertanian di lumbung mataraman Wukirsari ditanami komoditas yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi permintaan pasar.
Kali ini, komoditas yang difokuskan, yaitu cabai dan bawang merah. “Jadi kalau untuk pertanian kita sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Seperti musim hujan saat ini, kita memilih cabai karena di musim hujan harga cabai akan lebih tinggi,” ujar Beni.
Dengan bantuan para petani muda/milenial, proses penyiraman pertanian pun menjadi lebih mudah dan praktis. Memanfaatkan teknologi digital, irigasi tetes dan sprinkler dapat dilakukan hanya dengan instruksi lisan melalui smartphone.
“Jadi petani muda di sini sudah tidak menyiram lagi. Sudah menggunakan sistem tetes untuk tanaman cabai, dan juga sudah pakai sistem sprinkler untuk tanaman bawang merah, di mana di situ bisa kita operasikan melalui android,” kata Beni.
“Memang salah satu dari petani kita ada yang sudah tahu cara menggunakan teknologi itu dan juga ada yang masih belajar. Jadi ketika sistem tetesnya itu kok dirasa kurang mampu dengan luas sekian, itu kita mencari tahu dengan adanya si moderator itu,” ucap Beni.
Beni menyebut, awalnya petani milenial yang ikut mengelola pertanian lumbung mataraman ini baru sekitar dua orang. Namun, ketika dua petani milenial tersebut mampu membuktikan bahwa pertanian merupakan sektor yang mampu menyejahterakan, pemuda lain pun menjadi tertarik untuk bergabung.
“Pemuda-pemuda lain itu juga ikut tertarik ketika sudah melihat langsung hasil petani milenial seperti apa, bagaimana cara penjualannya, untungnya berapa. Jadi itu kemudian pengen ikut terjun di dunia pertanian,” kata Beni.
Beni mengatakan, dalam sekali panen cabai dapat diperoleh sekitar 40 kg. Karena mengutamakan pemenuhan kebutuhan lokal, maka hasil panen pertanian pun ditawarkan terlebih dahulu kepada masyarakat dengan harga sekitar Rp5.000,00 lebih murah dari harga di pasar.
“Kalau harga itu kita bisa ada perbedaan dengan harga pasar, di sini sekitar Rp5.000 per 1 kilo lebih murah. Kemarin kita panen cabai sekitar satu hari itu ada sekitar 40 kg, itu bisa habis di masyarakat. Alhamdulillah masyarakat itu antusias dengan harga yang lebih murah. Kemarin dengan harga Rp30.000 sedangkan di pasar Rp35.000, ada yang beli 1 kilo, setengah kilo tetap kita layani,” ujar Beni.
Sementara itu, untuk peternakan, Beni menuturkan bahwa Lumbung Mataraman Wukirsari berfokus pada ternak burung puyuh dan kambing. Kedua ternak tersebut dipilih karena telur puyuh dinilai memberikan sejumlah manfaat yang baik bagi kesehatan, sedangkan daging kambing termasuk komoditas dengan permintaan tinggi di Kabupaten Bantul.
“Untuk ternak burung puyuh di sini memang sudah ada satu, dua pihak yang sudah memelihara burung puyuh. Manfaat dari telur puyuh itu juga banyak. Nah ini kami tinggal melakukan mitra dengan puyuh tersebut terus nanti kita juga masih belajar,” ucap Beni.
Beni pun menceritakan, sekitar 2.000 burung puyuh yang ada saat ini, mulanya dipelihara sedari muda. Dari yang awalnya hanya bertelur sebanyak 40 telur per hari, kini telah mencapai sekitar 900 telur per hari.
“Kalau ternak kambingnya, ini kami ternak kambing pedaging ada sekitar 80-an kambing. Di dekat sini kan ada sentranya kuliner daging kambing. Jadi kami ikut gitu,” kata dia, menuturkan.
Agar lebih terorganisir dengan baik, pengelolaan lumbung mataraman dilakukan secara kolektif dengan pembagian peran antarkelompok. Setiap kelompok fokus pada komoditas masing-masing, sementara pengelola berperan mendorong kinerja dan penguatan struktur agar tujuan bersama dapat tercapai, yakni swasembada pangan di tingkat desa.
Seperti komoditas bawang merah dikelola oleh seorang petani milenial bersama beberapa rekannya, yang memanfaatkan teknologi digital. Dalam kesempatan ini, Beni turut menyampaikan, dari sisi pemberdayaan, Lumbung Mataraman Wukirsari juga membuka peluang kerja bagi masyarakat, mulai dari pengolahan lahan, perawatan ternak, hingga kegiatan panen.
Ke depan, Lumbung Mataraman ini direncanakan tidak hanya sebagai sentra ketahanan pangan, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan destinasi wisata berbasis pertanian.
“Jadi kami ingin pertanian bukan hanya tumbuh berpusat di Lumbung Mataraman ini, tetapi juga di kampung-kampung pun ada yang menanam. Rencana ke depan, kami mempunyai keinginan seperti melakukan edukasi pembelajaran. Belajar cara menanam, nanti kita akan memberikan panduan, jadi menanamnya itu bukan cuma asal menanam, tetapi kita akan memberikan buku panduannya,” ucap Beni.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....