Tak Terangkut, Sampah Pasar Giwangan Menumpuk
- 27 Jan 2026 10:23 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kondisi yang memprihatinkan dialami Pasar Induk Giwangan, bukan karena sepinya pembeli ataupun fluktuasi harga yang kian ekstrem. Namun, pedagang harus berjibaku dengan bau sampah menyengat yang mereka rasakan sekitar 1 bulan ini.
Sampah yang menumpuk di depan los buah-buahan pasar, pada Senin, 26 Januari 2026, didominasi buah dan sayur yang merupakan komoditi utama pasar tersebut.
Selain dimasukkan dalam karung, samapah yang sebagian besar sudah membusuk ini dibiarkan terbuka dan menjadi pemandangan ketika di pasar.
Salah satu pedagang sayuran Salamah mengatakan, penumpukan sampah sudah terjadi selama lebih dari satu bulan. Kondisi inipun dikeluhkan tidak hanya pedagang, tetapi juga pembeli.
"Paling banyak dari buah, sudah sebulan lebih. Tidak diapa-apakan, hanya ditumpuk dan sebenarnya mengganggu," ujarnya.
Salamah berharap, pemerintah segera melakukan langkah cepat sehingga tumpukan sampah bisa teratasi. Sehingga tidak mengganggu aktivitas perekonomian maupun dari sisi kesehatan.
Pedagang lainnya bernama Mini mengatakan, mereka sempat diminta untuk mengelola sampah secara mandiri. Namun, mereka kesulitan karena banyaknya sampah maupun keterbatasan tenaga. Kondisi sampah yang menumpuk ini pun sudah disampaikan kepada Dinas Perdagangan sebagai pengelola pasar melalui lurah, hanya saja belum bisa terselesaikan.
"Sudah lama, terus katanya suruh mandiri, kalau kemarin-kemarin sudah, sudah pernah dicoba, mungkin karena banyaknya sampah itu jadi sulit. Retribusi kebersihan ada," katanya.
Tumpukan sampah tidak hanya menimbulkan bau, tapi juga tikus dan lalat. Mini mengharapkan, agar masalah sampah ini bisa terselesaikan dan jadwal pengambilan sampah bisa dirutinkan. Kondisi ini pernah terjadi sebelumnya dan dapat teratasi dengan kerja sama antara pemerintah dengan pedagang.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta Veronica Ambar Ismuwardani saat dikonfirmasi mengatakan, ajakan kepada para pedagang untuk mengelola sampah sudah dilakukan. Kondisi ini diakui karena pengolahan sampah di pasar-pasar tradisional sedang mengalami kendala sejak awal Januari lalu, sejak pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan ditutup.
“Kami himbau pedagang untuk mengelola mandiri,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....