Penanganan Darurat Dilakukan, Ini Penyebab Longsornya Talud Bangunrejo
- 19 Jan 2026 16:33 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Langkah darurat dilakukan untuk penanganan sementara ambrolnya talud sungai Buntung di Bangunrejo, Kricak, Kota Yogyakarta yang menggerus Balai Pertemuan RT 57/RW 13. Ambrolnya talud ini terjadi karena talud tidak mampu menahan debit sungai Buntung yang meningkat akibat tingginya intensitas hujan, pada hari Sabtu, 17 Januari 2026.
Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO) menganalisis ambrolnya talud ini diakibatkan karena adanya beban bangunan yang berdiri di atasnya. BBWSO meminta program Pemerintah Kota Yogyakarta Mundur, Munggah, Madhep Kali (M3K) kembali dilakukan di kawasan ini.
Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWSO, Vicky Aryanti mengatakan, penanganan sementara akan dilakukan dengan pembersihan material bangunan talud dan tembok yang longsor di sungai Buntung. Kemudian dilakukan pemasangan bronjong untuk menahan agar tidak terjadi longsor susulan.
"Ini membongkar dulu sih yang jelas, membongkar semua yang ada di sini, untuk kemudian ditata sementara. Karena penganggaran untuk 2026 ini kita masih belum tahu, masih menggunakan apa untuk bisa masuk di kegiatan penataan sungai ini," katanya, saat meninjau longsoran talud sungai Buntung, Senin, 19 Januari 2026.
Vicky menyampaikan, penerjunan alat berat untuk membersihkan material secepatnya pada minggu-minggu ini. Hanya saja untuk waktu pengerjaannya masih membutuhkan assesmen dari jumlah material dan pemasangan bronjong.
Penataan Sepadan Sungai Cegah Longsor
Longsornya talud sungai Buntung bukanlah yang pertama terjadi di lokasi yang sama, sehingga edukasi perlu dilakukan agar kejadian tidak terulang kembali.
Vicky menjelaskan, edukasi perlu dilakukan kepada masyarakat karena bangunan ini jelas melanggar sempadan sungai. Karena permasalahan bukan ada pada talud, namun lebih menata pada bangunan di atasnya sehingga tanggul tidak gampang roboh.
"Mereka mendirikan bangunan di atas tanggul sungai dan itu walaupun sudah diperkuat tapi ternyata ada dindingnya. Nah, dinding ini mungkin enggak dihitung pada saat mereka hanya membangun tanggul, kan tanggul itu isinya cuman siklop, sementara dinding itu berat, pada saat banjir kemarin malah justru dia memberatkan dan jatuh," ucapnya.
Disamping titik longsor, Vicky mengungkapkan, terdapat titik-titik yang berongga dan hal tersebut menjadikan semakin rawan terjadinya longsor. Bahkan diakui terdapat beberapa talud yang sudah bergeser.
"Memang ini posisinya di dalam situ sudah rawan, sudah ada yang gerowong-gerowong jadi sudah geser semua, jadi memang ya sekalian kita mengedukasi yang sebelah-sebelahnya hulunya ini, barangkali juga kalau bisa kolaborasi dengan PU Kota untuk mundur dari sungai. Karena kan sebenarnya M3K di Yogyakarta sudah jalan, Code sudah punya, Winongo sudah punya, ya kurang lebih penyebab longsor karena ada bangunan di atasnya," ujarnya.
Meski masyarakat di bantaran sungai sudah termitigasi terutama saat debit air meningkat, dan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun BBWSO berharap kejadian di awal tahun 2026 ini menjadi pembelajaran penting terkait potensi bencana di bantaran sungai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....