Olah Sampah Jadi Berkah di Kemantren Tegalrejo
- 13 Sep 2025 09:48 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Yogyakarta: Kesadaran bersama dalam mengatasi sampah yang masih menjadi permasalahan sampah sangat dibutuhkan. Bahkan, melalui pengolahan yang tepat, sampah bisa menjadi bermanfaat, salah satunya yang dilakukan di Kemantren Tegalrejo.
Melalui program prioritas Kemantren dan didukung masyarakat serta sekaligus mendukung program gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS), Kemantren Tegalrejo mampu menekan volume sampah harian masyarakat.
Komitmen bersama warga masyarakat dalam menekan volume sampah berkolaborasi dengan Bank Sampah dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), sampah bisa diolah sebagai pupuk dan menghasilkan cuan dari pemilahan sampah anorganik.
Mantri Pamong Praja Tegalrejo Antariksa Agus Purnama mengatakan, pengolahan sampah anorganik memanfaatkan 75 bank sampah.
Sedangkan sampah organik dijelaskan Antariksa, terdapat beberapa pekarangan rumah warga yang telah membuat biopori, ember tumpuk, bahkan dikelola menjadi pakan ternak, serta pupuk organik yang digunakan 8 kelompok tani.
Agus menyampaikan, sesuai arahan Wali Kota Yogyakarta, di wilayahnya sudah mulai dilakukan pemetaan pembuatan biopori jumbo yang akan digunakan secara komunal oleh warga berbasis RW.
"Setelah kemarin Wali Kota Yogyakarta meninjau wilayah Tegalrejo, kami hitung kebutuhan biopori jumbo sekitar 54. Dengan jumlah penduduk 13 ribu, satu biopori mampu menampung sampah organik dari 250 penduduk atau ditarik rata-ratanya untuk 70 KK," kata Agus, Sabtu (13/9/2025).
Inovasi terus dilakukan, didukung semangat masyarakat, Agus menjelaskan, survei lahan maupun pekarangan di wilayah Tegalrejo tengah dilakukan untuk menjadi titik lokasi pembuatan biopori jumbo, yang terdiri dari empat kelurahan yaitu Tegalrejo, Kricak, Bener dan Karangwaru.
Agus memperinci, rata-rata harian dari masing-masing Kelurahan di wilayahnya berada di kisaran angka 1 ton/hari. Sehingga upaya untuk menekan sampah yang masuk ke depo terus dilakukan bersama-sama masyarakat.
"Secara anggaran sedang disusun untuk pembuatan biopori jumbo, beberapa warga juga sudah ada yang mau gotong royong lahannya digunakan sebagai unit pupuk organik (UPO)," ujar Agus.
Salah satu perwakilan Kelompok Tani dari wilayah Tegalrejo yang juga Ketua Tompeyan Berseri Tri Mulyono mengatakan, pengolahan sampah secara mandiri dilakukan untuk mendukung sektor pertanian di wilayahnya
Tri menyebutkan, untuk sampah organik berupa sisa dapur dari warga, dimanfaatkan untuk budidaya maggot yang nantinya menjadi pakan ternak lele. Sementara sampah organik daun dan ranting dicacah, dijadikan kompos untuk pupuk tanaman pertanian.
"Ternak lele kami sudah berjalan dengan memanfaatkan sampah organik melalui proses budidaya maggot, kemudian tanaman yang dibudidayakan ada bayam, tomat dan cabai, semuanya organik karena pupuknya juga dibuat sendiri secara organik," ujar Tri.
Selain untuk meningkatkan produktif pertanian perkotaan, melalui semangat gotong royong masyarakat bisa membangun sebuah gerakan mengelola sampah secara mandiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....