Tugu Golong Gilig, Landmark Kota Yogyakarta Sebagai Simbol Persatuan Raja dan Rakyat

  • 01 Jan 2025 13:17 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Tugu Golong Gilig atau dikenal masyarakat dengan Tugu Pal Putih merupakan bangunan cagar budaya sekaligus landmark kota Yogyakarta. Bangunan yang berada di persimpangan antara Jalan Margo Utomo, Jalan A.M. Sangaji, Jalan Jendral Sudirman, dan Jalan P. Diponegoro ini menjadi bagian dari sumbu filosofis yang membentang dari Gunung Merapi, Tugu Golong Gilig, Keraton Yogyakarta, Panggung Krapyak, dan Laut Selatan.

Melansir dari laman resmi Kraton Yogyakarta, tugu ini dibangun pada tahun 1756 atau setahun setelah Yogyakarta berdiri. Pada awalnya bangunan ini berupa silinder (golong) dengan puncak berupa bulatan (gilig), sehingga dikenal dengan sebutan Tugu Golong Gilig.

Makna filosofis yang terkandung dari bentuk golong gilig ini adalah semangat persatuan antara rakyat dengan rajanya. Juga sebagai simbol atas filosofi Jawa "Manunggaling Kawula Gusti" yang tidak hanya berarti menyatunya rakyat dengan penguasa, tetapi juga menyatunya manusia dengan kehendak Sang Pencipta.

Pada masa lalu bulatan atau gilig pada puncak tugu digunakan sebagai titik pandang ketika Sri Sultan sinawaka (meditasi) di Bangsal Manguntur Tangkil. Bangsal Manguntur Tangkil adalah ruang takhta yang terletak di Siti Hinggil Lor, pelataran keraton yang tanahnya ditinggikan.

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855-1877) terjadi gempa tektonik berskala besar di Yogyakarta, tepatnya tanggal 10 Juni 1867 (4 Sapar Tahun 1796 J). Peristiwa ini mengakibatkan runtuhnya bangunan, termasuk Tugu Golong Gilig. Pilar tugu patah kurang lebih sepertiga bagian. Kejadian ini dikenang dalam candra sengkala yang berbunyi Obah Trus Pitung Bumi (tujuh bumi terus berguncang), menunjuk pada angka 1796 tahun Jawa.

Selama beberapa tahun terbengkalai, Tugu Golong Gilig dibangun kembali pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921). Pembangunan kembali ini mengubah bentuk tugu dari yang semula berbentuk golong dan gilig, menjadi berbentuk persegi dan berujung lancip. Ditengarai, desain baru ini merupakan strategi pemerintah Belanda untuk menghilangkan simbol kebersamaan raja dan rakyat yang ditunjukkan oleh desain tugu sebelumnya.

Ketinggian tugu juga berubah dari yang semula 25 meter menjadi 15 meter saja. Setelah selesai pembangunannya, tugu ini diresmikan pada tanggal 3 Oktober 1889. Bentuk bangunan tugu saat ini masih tetap sama, tidak mengalami perubahan lagi sejak pembangunan kembali setelah rusak akibat gempa. Untuk memberikan edukasi, memahami sejarah dan falsafah bagi masyarakat dari bangunan cagar budaya tersebut, maka dibuatlah miniatur.

Miniatur Tugu Golong Gilig dibangun pada tahun 2015 yang berada di sudut tenggara tugu. Miniatur ini dibangun sesuai desain awal dan dilengkapi dengan keterangan mengenai sejarah perjalanan tugu sebagai salah satu simbol penting di Kesultanan Yogyakarta. (semi/par)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....