Mengenal Siklus Tahun Pada Kalender Jawa Sultan Agungan

  • 11 Des 2024 09:43 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Dalam satu tahun, menurut kalender Jawa memiliki umur 354 3/8 hari. Berkaitan dengan hal ini kita kemudian mengenal siklus delapan tahun yang disebut sebagai windu.

Melansir dari laman Kraton Jogja yang menyebutkan bahwa dalam satu windu terdapat delapan tahun yang masing-masing memiliki nama tersendiri yaitu Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu dan Jimakir. Tahun Ehe, Dal, dan Jimakir memiliki umur 355 hari dan dikenal sebagai tahun panjang (Taun Wuntu), sedang sisanya 354 hari dikenal sebagai tahun pendek (Taun Wastu). Pada tahun panjang tersebut, bulan Besar sebagai bulan terakhir memiliki umur 30 hari.

Selain itu, terdapat siklus empat windu berumur 32 tahun di mana nama hari, pasaran, tanggal, dan bulan akan tepat berulang atau disebut tumbuk. Keempat windu dalam siklus itu diberi nama Kuntara, Sangara, Sancaya, dan Adi.

Tiap windu tersebut memiliki lambang sendiri, Kulawu dan Langkir. Masing-masing lambang berumur 8 tahun, sehingga siklus total dari lambang berumur 16 tahun.

Meski demikian, masih ada perbedaan perhitungan antara tahun Jawa dan tahun Hijiriyah. Tiap 120 tahun sekali, akan ada perbedaan satu hari pada kedua sistem penanggalan tersebut.

Maka pada saat itu tahun Jawa diberi tambahan satu hari. Periode 120 tahun ini disebut dengan khurup. Sampai awal abad 21 ini, telah terdapat empat khurup, yaitu Khurup Jumuwah Legi/Amahgi (1555 J – 1627 J / 1633 M – 1703 M), Khurup Kemis Kliwon/Amiswon (1627 J-1747 J/1703 M-1819 M), Khurup Rebo Wage/Aboge (1867 J-1987 J/1819 M-1963 M), dan Khurup Selasa Pon/Asapon (1867 J-1987 J/1936 M-2053 M).

Nama khurup yang berlangsung mengacu pada jatuhnya hari pada tanggal 1 bulan Sura tahun Alip. Pada Khurup Asapon, tanggal 1 bulan Sura tahun Alip akan selalu jatuh pada hari Selasa Pon selama kurun waktu 120 tahun. (semi)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....