Takbir Fest Tridadi Padukan Budaya Jawa, Religi serta Kekompakan Tim
- 20 Mar 2026 11:07 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Takbir Fest Tridadi 1447 H di Lapangan Pemda Sleman, Yogyakarta berlangsung meriah dengan nuansa religi yang kental dipadukan Budaya Jawa. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa tradisi takbiran tetap bisa berjalan selaras dengan upaya nguri – uri budaya jawa.
Ketua pelaksana, Ridwan Septian, mengatakan bahwa tahun ini Takbir Fest Tridadi 1447 H mengusung tema “Full Of Light, Full Of Culture”. Tema tersebut sengaja diangkat untuk menghadirkan suasana takbiran yang tidak hanya religious, tetapi menjadi sarat nilai budaya.
“Tema takbir itu memiliki arti yaitu banyak cahaya dan dibumbui dengan kebudayaan. Dan pada malam ini ada pawai yang melantunkan lafadz takbir dengan kreativitas musik yang dibawakan setiap kafilah dan diakhiri dengan penampilan display dengan cerita dari masing masing kafilah,” kata Ridwan.
Menurutnya, unsur budaya jawa ini ditampilkan melalui berbagai kreativitas peserta, salah satunya dengan menghadirkan iringan gamelan dalam pawai takbir. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri sekaligus bentuk pelestarian budaya ditengah perayaan keagamaan.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini tak hanya sekedar perlombaan untuk memenangkan kejuaraan, melainkan ajang mempererat persaudaraan masyarakat. Keterlibatan peserta dari berbagai usia, mulai dari anak – anak hingga dewasa menunjukkan antusiasme tinggi dalam menyemarakkan malam takbiran.
Sementara itu, Koordinator Display Masjid Daarussalam Beran Kidul, Anom Prasetyo, mengatakan bahwa pada tahun ini timnya mengangkat kisah pasukan bergajah dari surat Al – Fill sebagai tema penampilan. Cerita tersebut disajikan melalui properti dan gerakan yang dipadukan dengan musik yang mengandung unsur tradisional.
“Display yang telah kami buat ini tidak hanya menghibur, tapi semoga bisa memberikan edukasi dengan nilai keislaman. Dan kami berkolaborasi dengan seni, budaya dan religi di takbir fest tridadi 1447 H dan semoga menjadi tradisi yang memperkuat identitas masyarakat,”kata Anom
Ia menyebutkan bahwa dalam proses pembuatan properti dilakukan selama 30 hari menggunakan bahan sederhana, seperti bambu, kawat dan kertas. Meskipun dengan menggunakan seadanya akan tetapi Kelompok Masjid Daarussalam berhasil menunjukkan ke dewan juri hasil yang memuaskan.
Meskipun begitu, ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam persiapan adalah menjaga kekompakan tim. Menurutnya, apabila penampilan display tidak dibarengi dengan kekompakan maka pesan yang ingin disampaikan tidak akan tersampaikan dengan maksimal. (Victorio Firsta)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....