Ramadan di Yordania ditengah Konflik yang Bergejolak
- 14 Mar 2026 06:23 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Ramadan di Yordania tahun ini terasa begitu berbeda. Di balik kekhusyukan ibadah, masyarakat dan Diaspora Indonesia di sana merasakan ketegangan yang mendalam akibat gejolak konflik di kawasan Timur Tengah yang kian memanas.
Arif Rahman Hakim Syadzali, mahasiswa doktoral (S3) di Wise University, Yordania sekaligus Ketua PCINU Yordania, menceritakan pengalamannya menjalani bulan suci di negeri yang menjadi pintu gerbang menuju Palestina tersebut.
Bagi Arif, Yordania adalah rumah kedua. Ia merasa tidak terlalu asing dengan atmosfer keagamaan di sana karena adanya kesamaan kultur dan paham akidah. Masyarakat Yordania mayoritas bermazhab Syafi’i, serupa dengan mayoritas muslim di Indonesia.
"Di sini kita biasa melakukan kegiatan seperti Maulid, Manaqib, ziarah kubur, dan kegiatan keagamaan lain yang tidak jauh berbeda dengan di tanah air," ujarnya.. Bahkan, tradisi Shalat Tarawih 20 rakaat pun tetap lestari atas imbauan Kerajaan Yordania.
Namun, kekhidmatan Ramadan tahun ini diwarnai dengan situasi siaga. Secara geografis, Yordania berada di titik tengah antara dua pihak yang berseteru, yakni Iran dan Israel.
Arif menuturkan bahwa sirine peringatan seringkali terdengar memecah keheningan kota. Pemandangan rudal yang melintasi langit Yordania serta suara dentuman keras yang menggetarkan kaca-kaca bangunan menjadi realitas yang harus dihadapi warga.
"Ramadan kali ini terasa sedikit berbeda. Di warung kopi hingga layar televisi, berita konflik belum juga usai. Banyak warga Yordania memiliki hubungan keluarga langsung di Palestina, sehingga setiap perkembangan konflik terasa sangat dekat di hati mereka," jelasnya.
Situasi ini membawa kedalaman emosional saat ibadah shalat berjamaah. Di masjid-masjid Yordania, momen ketika imam memanjatkan doa qunut atau doa untuk Palestina menjadi saat yang paling menyentuh. Isak tangis jamaah seringkali terdengar di tengah doa-doa yang dipanjatkan untuk keselamatan warga di Palestina dan keamanan kawasan Timur Tengah.
Meski berada di wilayah yang dekat dengan konflik, Arif memetik pelajaran berharga tentang makna ketenangan.
"Ketenangan bukan berarti dunia sedang tanpa masalah. Terkadang ketenangan justru hadir ketika manusia tetap percaya kepada Allah SWT meskipun dunia sedang tidak baik-baik saja," ucapnya.
Melalui kegiatannya di PCINU, Arif dan rekan-rekan mahasiswa lainnya terus aktif melakukan dakwah, pengajian, hingga pembinaan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Yordania, menjaga semangat kebersamaan dan persaudaraan di tengah situasi yang menantang.
(Kontributor Muslimat NU:KH. Arif Rahman Hakim Syadzali,M. Ag, mahasiswa doktoral (S3) di Wise University, Yordania sekaligus Ketua PCINU Yordania)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....