Ramadan di Pakistan Penuh Tantangan
- 14 Mar 2026 05:18 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menjalankan ibadah Ramadan di negeri orang selalu menyisakan cerita unik, apalagi jika wilayah tersebut menyandang status "rawan dan berbahaya". Inilah yang dirasakan oleh Ni’matul Musthofa, seorang ibu rumah tangga sekaligus istri dari diplomat Indonesia yang bertugas di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Islamabad, Pakistan.
Sudah hampir tiga tahun Ni’matul menetap di Islamabad bersama suami dan ketiga buah hatinya. Baginya, bertugas di negara mayoritas Muslim seperti Pakistan adalah sebuah anugerah, terutama dalam mendidik anak-anak di lingkungan yang kental dengan syariat Islam. Namun, kenyamanan tersebut kerap kali berbenturan dengan dinamika politik dan keamanan yang fluktuatif.
Ramadan tahun ini terasa berbeda bagi komunitas Indonesia di sana. Kepergian pemimpin tertinggi Iran beberapa waktu lalu memberikan dampak signifikan terhadap situasi keamanan di Pakistan. Gelombang demonstrasi massa seringkali memicu penutupan akses jalan utama menuju pusat kota Islamabad oleh pemerintah setempat.
"Situasi keamanan sering penuh kejutan. Kalau ada demonstrasi, jalan-jalan ditutup, bahkan sekolah harus dilakukan secara daring," ujarnya. Kondisi ini bahkan memaksa KBRI Islamabad menunda acara peringatan Nuzulul Quran yang telah direncanakan jauh-jauh hari.
Meski dibayangi isu keamanan, kehangatan masyarakat Pakistan dalam menyambut tamu menjadi penawar rindu akan kampung halaman. Ni’matul menceritakan betapa warga lokal sangat gemar mengundang makan bersama. Budaya Iftar (buka puasa) di sana sangat masif, bahkan tak jarang berlanjut hingga acara sahur bersama.
Salah satu momen paling berkesan adalah saat menghadiri peringatan Hari Wanita Internasional yang dirangkaikan dengan sahur bersama. Sembari menunggu waktu subuh, para tamu disuguhi penampilan Musik Kawali, musik tradisional khas Pakistan yang liriknya sarat akan puji-pujian kepada Allah SWT dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Ada satu perbedaan mencolok yang dirasakan Ni’matul dibandingkan di Indonesia, yaitu akses salat Tarawih bagi perempuan. Di Pakistan, tidak semua masjid menyediakan ruang bagi jamaah wanita. Akibatnya, masjid-masjid yang membuka pintu bagi perempuan akan sangat dipadati jamaah karena keterbatasan pilihan.
Bagi Ni’matul dan keluarga, Ramadan di Pakistan bukan sekadar menjalankan rukun Islam, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk memahami toleransi dalam spektrum yang berbeda.
"Jika di tanah air kita belajar toleransi lintas agama, di sini kami belajar memahami Islam dalam keberagaman budaya dan mazhab yang berbeda," ucapnya.
(Kontributor Muslimat NU: Ni'matul Musthofa, Istri Diplomat KBRI Islamabad Pakistan)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....