Masjid di Yogyakarta Ini Hadirkan Layanan Pojok Musafir, Terbuka 24 Jam

  • 14 Mar 2026 01:29 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Sebuah masjid di Kota Yogyakarta menghadirkan layanan "Pojok Musafir" sebagai ruang singgah bagi para pengelana dan masyarakat umum yang membutuhkan tempat beristirahat. Masjid tersebut adalah Masjid Danunegaran.

Program ini merupakan kolaborasi antara Masjid Danunegaran dengan Lazismu Mantrijeron dan mulai berjalan efektif sejak 1 Januari 2026.

Berlokasi di Jalan Parangtritis, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Masjid Danunegaran hampir tidak pernah sepi. Ketua Takmir Masjid Danunegaran, Rokhaedi Priyo Santoso mengatakan, letak masjid yang berada di jalur utama menjadi salah satu alasan dihadirkannya layanan tersebut.

Selain itu, Rokhaedi menjelaskan bahwa fasilitas tersebut berangkat dari kebiasaan lama masjid yang sering dimanfaatkan musafir untuk transit maupun beristirahat.

"Sejak dulu paviliun masjid memang sering digunakan musafir untuk transit atau menginap. Tetapi secara resmi menggunakan nama Pojok Musafir itu baru mulai pada awal 2026," ujar Rokhaedi beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, pihak masjid menerapkan sistem terbuka, sehingga masyarakat dapat datang kapan saja karena masjid buka selama 24 jam. Adapun fasilitas yang tersedia di area Pojok Musafir seperti air minum panas dan dingin, teh, kopi, serta gula yang dapat diambil secara mandiri.

Selain itu, tersedia pula mi instan atau camilan yang disediakan dengan bantuan petugas dari Lazismu Mantrijeron. Fasilitas lain yang disediakan antara lain karpet untuk beristirahat serta sarana pendukung aktivitas kerja.

"Kalau untuk minuman bebas diambil, tetapi untuk mi instan dilayani oleh staf Lazismu agar bisa terkontrol," kata Rokhaedi.

Fasilitas Pojok Musafir di Masjid Danunegaran Kota Yogyakarta. (Foto: RRI/Rohmana Kurniandari)

Selain tempat singgah, Masjid Danunegaran juga menyediakan area untuk menginap bagi musafir yang membutuhkan. Pengunjung yang masih berada di area masjid setelah pukul 22.00 WIB akan diminta mengisi data diri sebagai bagian dari pengawasan keamanan.

"Yang menginap biasanya dilakukan pendataan untuk faktor keamanan. Jadi biasanya nanti kalau ada yang singgah sampai pukul 22.00 WIB, akan diminta datanya oleh marbot. Tapi kalau siang tidak," katanya.

Meski terbuka bagi siapa saja, pihak masjid membatasi masa menginap maksimal tiga hari agar fasilitas tersebut tidak disalahgunakan.

"Tidak ada syarat khusus, baik muslim maupun nonmuslim dipersilakan bisa mengakses layanan tersebut. Kami menyediakan karpet untuk alas tidur, tetapi maksimal menginap tiga hari agar tidak disalahgunakan," ujarnya.

Sebagian besar musafir yang menginap berasal dari luar kota, dengan berbagai tujuan perjalanan, mulai dari keperluan keluarga, mencari pekerjaan, hingga berwisata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....