Pelajaran Surat Al-Ma'un dari KH Ahmad Dahlan

  • 13 Mar 2026 13:42 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Lebih dari 100 tahun lalu, sebuah kisah inspiratif tentang pemahaman Surat Al-Ma’un menjadi salah satu dasar lahirnya gerakan dakwah yang berorientasi pada aksi sosial. Kisah ini berkaitan dengan pendiri Ahmad Dahlan yang dikenal menanamkan nilai bahwa ajaran Islam tidak hanya dipelajari, tetapi juga harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini diungkapkan Ir. H Azman Latief dalam Tausiah Taraweh di masjid UAD Ringroad Selatan, Kamis 12 Maret 2026.

Diungkapkan Azman Latief bahwa dalam sebuah cerita yang sering disampaikan di lingkungan pendidikan Islam, KH Ahmad Dahlan mengajarkan Surat Al-Ma’un kepada para santrinya selama berbulan-bulan. Surat tersebut diawali dengan ayat “Ara’aitalladzi yukadzdzibu biddin” yang mengingatkan tentang orang-orang yang mendustakan agama.

Selama berbulan-bulan, para santri terus mempelajari surat tersebut tanpa berpindah ke ayat lain. Hal ini membuat salah seorang santri bertanya mengapa pelajaran tidak juga bertambah.

Pertanyaan itu kemudian dijawab dengan penjelasan mendalam. Sang kiai menegaskan bahwa mempelajari Al-Quran tidak cukup hanya dengan membaca atau menghafal, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Surat Al-Ma’un sendiri mengajarkan kepedulian sosial, terutama kepada anak yatim dan kaum miskin. Pada masa itu, kondisi masyarakat di sekitar masih banyak ditemukan anak yatim dan orang yang membutuhkan pertolongan. Karena itulah, KH Ahmad Dahlan mendorong para muridnya untuk langsung mengamalkan isi ayat tersebut dengan membantu mereka yang membutuhkan.

Semangat inilah yang kemudian menjadi salah satu landasan gerakan sosial dan pendidikan yang dijalankan oleh Muhammadiyah.

KH Ahmad Dahlan yang saat itu masih muda dikenal sebagai tokoh pembaharu dalam pendidikan dan dakwah Islam. Ia mengajarkan bahwa nilai-nilai Al-Quran harus hadir dalam tindakan nyata, bukan hanya dibahas dalam forum diskusi, seminar, atau sekadar tadarus.

Dalam ajaran Islam, manusia terbaik adalah mereka yang memberikan manfaat paling besar bagi orang lain. Prinsip ini sejalan dengan banyak ayat dalam Al-Qur’an yang mendorong umat Islam untuk aktif berbuat kebaikan di tengah masyarakat.

Salah satu contoh ajaran yang harus diamalkan adalah shalat. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa shalat dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Artinya, ibadah tersebut tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga harus membentuk perilaku dan karakter yang baik.

Selain itu, kehidupan seorang Muslim juga harus seimbang antara hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas).

Gerakan-gerakan dalam shalat pun mengandung makna simbolis. Misalnya, salam ke kanan dan ke kiri mencerminkan pesan perdamaian serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Contoh lain dari ajaran Islam yang harus diamalkan adalah kewajiban membayar zakat. Zakat menjadi bentuk nyata kepedulian sosial dan solidaritas terhadap sesama, terutama bagi mereka yang kurang mampu.

Melalui pemahaman inilah, KH Ahmad Dahlan menanamkan nilai bahwa ajaran Islam harus hadir dalam kehidupan nyata dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Tokoh pembaharu tersebut wafat pada usia 55 tahun, namun gagasan dan semangat dakwahnya terus hidup hingga saat ini.

Rekomendasi Berita