Ibadah Puasa Proses Membentuk Kesabaran Diri Umat Islam
- 13 Mar 2026 00:28 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Banyak manfaat dari ibadah Puasa yang dilakukan kaum Muslimin setiap tahunnya. Puasa merupakan sebuah proses untuk membentuk pribadi yang sabar, satu sikap agar bisa bertahan dalam menghadapi cobaan kehidupan.
Menurut Masruri Abdullah,S.E.I dari Pimpinan Wilayah Muhammadyah DIY, ketika menjadi narasumber di program Barokah Berbuka Puasa Pro1 RRI Yogyakarta pada 10-3-2026, mengatakan masyarakat muslim saat ini sedang menjalani ibadah puasa di bulan ramadhan.
Puasa dilakukan karena memenuhi perintah Allah yang terdapat dalam Rukun Islam ke 3, sebagai wujud kepatuhan seorang hamba kepada Allah SWT.
Bulan Ramadan juga sering disebut sebagai bulan sabar. puasa itu setengah dari kesabaran. Puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsu, menahan amarah merupakan latihan secara intensif dari Allah subhanahu wa'ta'ala untuk memperkuat otot-otot kesabaran dalam jiwa setiap manusia.
Lebih lanjut Masruri menjelaskan manusia secara sadar tidak hanya menahan diri, namun harus menjauhi larangan-larangan yang membatalkan puasa. Dimana kalau di luar bulan Ramadan, tidak di haramkan oleh Allah untuk manusia melakukannya contoh makan siang .
Mahabatullah demi cintanya kepada Allah s.w.t bahkan Rasulullah s.a.w. menggambarkan, seandainya umatku pada saat tertentu dan keadaan tertentu diuji emosinya, ketika berpuasa maka katakanlah “Saya sedang berpuasa,” ujarnya.
Sabar di dalam bulan Ramadan merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan, misalnya kesabaran dalam menanti waktu berbuka puasa, yang dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, itu merupakan sebuah kesabaran setiap manusia yang berpuasa.
Kesabaran yang paling menyakitkan manusia adalah di saat ada orang yang memfitnah dan mencaci maki dirinya, atas apa yang dilakukannya, namun mungkin orang tersebut tidak berkenan atas apa yang dikerjakannya. Di situlah kesabaran manusia diuji apakah bisa bertahan menerima dan memaafkannya atau membalasnya, kata Masruri.