Kisah Akademisi Yogyakarta Rasakan Khusyuknya Ramadan di Turki

  • 07 Mar 2026 23:22 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menjalani ibadah puasa di negeri orang selalu menghadirkan cerita unik, tak terkecuali bagi Izra Brakon. Mahasiswa S3 di Sakarya University sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini membagikan pengalaman emosionalnya menjalani Ramadan perdana di Turki.

Meski harus menahan rindu yang mendalam kepada keluarga di tanah air, Izra mengaku terpukau dengan kekayaan budaya dan kekhusyukan kaum Muslim di Turki dalam menghidupkan bulan suci ini.

Salah satu hal yang paling mencolok bagi Izra adalah perbedaan ritme waktu puasa. Berbeda dengan Indonesia yang memiliki durasi waktu tetap, di Turki, semakin mendekati Idulfitri, waktu berbuka justru semakin mundur.

"Di akhir Ramadan nanti, kami akan berbuka sekitar pukul 19.30 waktu setempat, sementara waktu sahur justru menjadi lebih awal sekitar pukul 05.30 pagi," ujarnya.

Namun, tantangan waktu ini terbayar dengan tradisi berbuka yang unik. Jika di Indonesia telinga akrab dengan suara bedug, di Turki, masyarakat menanti suara dentuman meriam yang ditembakkan oleh para prajurit sebagai tanda masuknya waktu Magrib—sebuah tradisi yang memberikan sensasi kepuasan tersendiri setelah seharian bersabar.

Izra juga menyoroti bagaimana masyarakat Turki mempersiapkan generasi muda mereka melalui kegiatan di masjid. Selama salat tarawih, masjid-masjid di Turki menyediakan relawan untuk menjaga anak-anak di ruang khusus yang aman.

Anak-anak tersebut dilibatkan dalam aktivitas positif seperti mewarnai, menggambar, hingga mendengarkan kisah tokoh legendaris Nasruddin Khoja yang dikemas secara ceria. Hal ini memastikan para orang tua dapat beribadah dengan khusyuk tanpa harus meninggalkan anak-anak dari atmosfer religius.

Filantropi juga terasa sangat kental di Kota Serdivan, tempat Izra menetap. Pemerintah setempat bersama kampus Sakarya University menyediakan tenda-tenda Iftar gratis dengan standar nutrisi yang lengkap.

"Menu yang disajikan sangat luar biasa, mulai dari kurma, sup, roti, hingga hidangan utama seperti nasi, daging, dan yogurt," katanya.

Pengalaman Ramadan ini bagi Izra bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan momen refleksi spiritual di negeri yang menjadi saksi sejarah panjang peradaban Islam di benua Asia dan Eropa. (Kontributor Muslimat NU DIY: Izra Berakon, P.hD, Student di Sakarya University, Turkiye, Sekretaris LPNU PWNU DIY, Dosen FEBI UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....