Kisah Puasa Pertama di Bawah Langit Sakura

  • 07 Mar 2026 20:43 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Jepang - Menjalani ibadah Ramadan di negeri dengan minoritas Muslim menghadirkan tantangan emosional tersendiri bagi para ekspatriat Indonesia. Hal ini dirasakan langsung oleh Dodi, seorang pemuda asal Bandung, Jawa Barat, yang kini menetap di Kota Sano, Prefektur Tochigi, Jepang.

Sudah enam bulan Dodi bekerja di salah satu perusahaan swasta di Negeri Sakura Jepang. Ramadan tahun ini menjadi momen yang sangat berbeda dibandingkan suasana hangat yang biasa ia rasakan di tanah kelahirannya.

Dodi mengungkapkan bahwa suasana Ramadan di Jepang hampir tidak terasa sama sekali karena mayoritas penduduknya non-Muslim. Perbedaan mencolok sangat dirasakan pada aktivitas keseharian yang biasanya semarak di Indonesia.

"Di sini suasananya sangat hening, jauh dari masjid. Tidak ada suara takbir keliling atau sahur keliling seperti di Bandung," ujarnya beberapa waktu lalu.

Ia juga menambahkan, di pusat perbelanjaan seperti mal atau pasar, tidak ada tanda-tanda kehadiran bulan suci seperti penjual takjil atau pernak-pernik hari raya yang biasanya memenuhi sudut kota di Indonesia.

Meski dilingkupi kesunyian dan jauh dari masjid, Dodi tidak merasa sendiri dalam beribadah. Ia tinggal di sebuah apartemen bersama tujuh rekan kerja lainnya yang semuanya beragama Islam. Kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama bagi mereka untuk menghidupkan suasana Ramadan di tanah rantau.

Untuk menjaga semangat ibadah, mereka melakukan berbagai aktivitas secara kolektif di dalam apartemen:
1.Buka Puasa Bersama: Menikmati hidangan setelah seharian bekerja.
2.Salat Tarawih Berjamaah: Mengingat lokasi masjid yang sulit dijangkau, mereka menyulap ruang apartemen menjadi tempat sujud bersama.
3.Sahur Bersama: Mempersiapkan asupan energi untuk berpuasa di tengah rutinitas kerja di Jepang.

Alhamdulillah, karena kami satu apartemen ada delapan orang dan semuanya Muslim, kami buat suasana senyaman mungkin seperti berpuasa di Indonesia," katanya.

Walaupun kebersamaan dengan rekan sejawat sedikit mengobati rasa sepi, Dodi tak menampik adanya rasa sedih karena harus berjauhan dengan keluarga besar di Indonesia.

Namun, ia memilih untuk tetap bersyukur atas kesempatan dan nikmat yang masih bisa ia jalani selama di Jepang. (Kontributor Muslimat NU DIY : Dodi Widiatmoko, Iwazakicho, Sano, Tochigi 3270307 Japan 1344)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....