Keteguhan Muslim Minoritas di Republik Ceko di bulan Ramadan
- 19 Feb 2026 09:04 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Republic Ceko – Menjalankan ibadah puasa di negeri orang menyajikan tantangan dan keindahan tersendiri, terutama bagi mereka yang tinggal di negara dengan komunitas Muslim minoritas. Hal inilah yang dirasakan oleh Robert Saputra, alumnus Charles University, saat menceritakan pengalamannya menjalani Ramadan di kota bersejarah, Praha.
Republik Ceko dikenal sebagai salah satu negara paling sekuler di dunia. Dengan total penduduk sekitar 10 juta jiwa, umat Muslim di sana diperkirakan hanya berjumlah 20.000 orang atau kurang dari 1% populasi. Bahkan, Islam baru diakui secara resmi oleh negara pada tahun 2004.
Kondisi ini membuat suasana Ramadan di Praha jauh dari hiruk-pikuk religius seperti di tanah air. "Tidak ada suara azan yang terdengar di jalanan, tidak ada baliho Ramadan," ujar Robert
Salah satu tantangan fisik terbesar bagi umat Muslim di Ceko adalah durasi puasa yang sangat dipengaruhi oleh letak geografis dan musim. Musim panas, puasa bisa mencapai 18 jam, dengan waktu sahur pukul 03.00 dan berbuka di atas pukul 21.00. Musim dingin, durasi puasa jauh lebih pendek, yakni sekitar 10 jam (pukul 06.00 hingga 16.00).
Beruntung pada tahun 2026 ini, Ramadan jatuh pada penghujung musim dingin menuju awal musim semi, sehingga durasinya relatif mirip dengan di Indonesia, yakni berkisar antara 12 hingga 13 jam.
Minimnya infrastruktur agama tidak menyurutkan semangat beribadah. Di Praha, terdapat setidaknya lima titik yang difungsikan sebagai masjid. Menariknya, masjid-masjid di pusat kota sering kali bukanlah bangunan berkubah, melainkan aula atau ruangan di apartemen yang disewa oleh komunitas Muslim.
Bagi diaspora Indonesia, titik kumpul utama adalah Aula KBRI. Sekali dalam seminggu, komunitas Muslim Indonesia mengadakan buka puasa bersama. Momen ini menjadi pelepas rindu akan kampung halaman melalui sajian takjil khas Nusantara seperti gorengan dan kolak.
Bagi Robert, Ramadan di Praha bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan sekolah kemandirian. Di tengah lingkungan yang mayoritas tidak berpuasa, umat Muslim dituntut untuk lebih sadar akan makna ibadah dan menghargai setiap detik kebersamaan dalam komunitas kecil mereka.
"Keindahan Ramadan tidak selalu tentang kemeriahannya, tetapi tentang keteguhan menjalankan ibadah dan rasa syukur bisa merasakannya di mana pun kita berada," ujar Robert.
(Kontributor Muslimat NU DIY: Robert Saputra, S.IP, M.Si, PhD. Alumnus Charles University, Praha, Republik Ceko Tahun 2025)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....