Auman "Singa Atlas" Menggema hingga Masjid Jogokaryan
- 30 Jun 2026 15:25 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Drama babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Monterrey, Meksiko, yang mempertemukan Belanda dan Maroko tidak hanya mengaduk emosi para pencinta bola di tribun stadion. Jauh ribuan kilometer dari Meksiko, atmosfer ketegangan itu menjalar hingga ke sudut-sudut Kota Yogyakarta, bahkan memantik resonansi spiritual yang mendalam di media sosial.
Kemenangan dramatis Maroko atas Belanda lewat adu penalti (3-2) setelah bermain imbang 1-1 rupanya mencuri perhatian akun media sosial resmi Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Melalui sebuah unggahan slide foto yang estetik, masjid yang dikenal dengan corak dakwah kemasyarakatannya ini tidak melihat laga tersebut sekadar sebagai pertandingan 90 menit plus extra time, melainkan sebagai refleksi teologis tentang ikhtiar dan sejarah.
"Tidak ada yang mustahil bagi hamba yang terus berusaha dan bertawakal kepada Allah. Auman Singa Atlas kembali menggema," tulis akun Masjid Jogokariyan dalam takarir (caption) unggahannya.
Bagi publik Jogokariyan, Maroko bukanlah negeri asing. Narasi yang dibangun mengingatkan kembali jemaah pada kejayaan peradaban Islam masa lalu, di mana Maroko menjadi rahim bagi lahirnya para ulama besar, pusat ilmu pengetahuan, hingga penjelajah dunia. Semangat historis itulah yang dinilai kembali memancar di lapangan hijau saat Maroko menumbangkan tim Oranje yang lebih diunggulkan.
Sujud, Doa, dan 'Pending' Masak demi Singa Atlas
Unggahan bernuansa sejuk namun membakar semangat ini langsung diserbu netizen. Kolom komentar mendadak penuh dengan histeria, rasa syukur, dan analisis emosional dari para "suporter jalur langit."
Momen magis sebelum babak adu penalti dimulai, di mana para pemain Maroko berkumpul melingkar, menjadi sorotan tajam netizen.
"Sebelum adu pinalti berdoa bareng dipimpin sang pelatih," tulis akun @pratilo, menggambarkan bagaimana kekuatan spiritual menjadi benteng terakhir Maroko sebelum Yassine Bono menepis tendangan Crysencio Summerville.
Sentimen senada juga dilontarkan oleh @elok8160. Ia menggarisbawahi bahwa kemenangan ini adalah perpaduan sempurna antara strategi modern dan kepasrahan kepada Sang Pencipta.
"Selain tawakal tentunya kerja keras mereka, karena itu semua beriringan joss Maroco, kompeni pulang," kelakarnya, menyisipkan gurauan khas netizen Indonesia tentang kepulangan tim Belanda.
Ketegangan laga ini bahkan sempat menghentikan aktivitas domestik pemirsa di rumah. Akun @yanti.ylc dengan jenaka menceritakan bagaimana dapur rumahnya mendadak "lumpuh" demi mengawal perjuangan Achraf Hakimi dan kawan-kawan.
"Alhamdulillah.... sampai masak tak pending dulu karena fokus nonton pildun plus berdoa untuk kemenangan Maroko," akunya disambut emotikon tawa dari netizen lain.
Sejarah Ditulis oleh Mereka yang Bertahan
Pertandingan itu sendiri memang berjalan bak rollercoaster. Belanda sempat berada di atas angin melalui gol Cody Gakpo, sebelum sundulan dramatis Issa Diop di masa injury time membuyarkan kemenangan di depan mata anak asuh Ronald Koeman. Di babak tos-tosan, ketenangan Ismael Saibari sebagai penendang terakhir akhirnya mengunci tiket 16 besar bagi Maroko.
Fenomena viralnya laga ini di akun sekelas Masjid Jogokariyan membuktikan bahwa sepak bola hari ini telah melintasi batas-batas geopolitik dan olahraga murni. Ia telah menjadi media universal untuk menyampaikan pesan universal: bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang paling diunggulkan di atas kertas, tetapi oleh mereka yang terus mengetuk pintu langit sembari berlari hingga peluit akhir dibunyikan. (Abdullah Hamdan)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....