Bentang Jawa 2026 Uji Nyali Duo Pesepeda Tangguh Asal Jogja

  • 26 Agt 2026 12:50 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Bentang Jawa 2026 menjadi ujian ketahanan fisik dan mental bagi Andhika Permana Putra alias Kobo dan Rusteddy alias Teddy yang tampil pada kategori Pair. Keduanya berhasil menuntaskan balapan sepeda ultra sejauh sekitar 1.500 kilometer dari Carita, Banten, menuju Banyuwangi, Jawa Timur, dengan medan ekstrem dan elevasi mencapai sekitar 16.000 meter. Andhika mencatat waktu 129 jam 52 menit 56 detik, sedangkan Rusteddy 129 jam 53 menit 49 detik, dengan posisi masing-masing di peringkat 24 dan 23.

Bentang Jawa merupakan ajang balap sepeda ultra tanpa dukungan (unsupported) dan mengandalkan navigasi mandiri yang melintasi Pulau Jawa dari barat ke timur. Peserta harus menaklukkan jalur pantai, perbukitan, pegunungan, hutan, hingga medan makadam dalam batas waktu 156 jam. Edisi 2026 dimulai pada Minggu 16 Agustus 2026, pukul 05.30 WIB dan berakhir pada Sabtu 22 Agustus 2026, pukul 17.30 WIB, dengan lokasi start di Carita dan finish di Banyuwangi.

Kobo dan Teddy terus mengayuh menembus teriknya matahari dalam perjalanan 1.500 km Bentang Jawa 2026. (Foto: @thoriq_wibisono)

Bagi Kobo, tantangan terbesar bukan semata-mata jarak dan tanjakan, tetapi kemampuan mengendalikan ego serta emosi ketika kondisi tubuh mulai terkuras. Keduanya harus saling menunggu dan menyesuaikan kecepatan agar tetap bersama sesuai karakter kategori Pair. Pengalaman yang paling membekas justru datang dari bantuan sederhana seorang ibu di kawasan Pelabuhan Ratu yang menawarkan mencuci pakaian mereka pada tengah malam ketika keduanya kelelahan, kurang tidur, dan kedinginan. “Gowes 1.500 kilometer itu fisiknya hancur lebur. Tantangan terbesarnya adalah menjaga mood partner tetap waras dan tidak saling menyalahkan,” ujar Kobo.

Selama perjalanan, keduanya juga menghadapi saddle sores atau lecet akibat terlalu lama berada di atas sadel serta berbagai medan yang menguras tenaga. Meski sempat merasakan beratnya perjalanan, Andhika mengaku tidak pernah benar-benar ingin menyerah karena justru menikmati setiap bagian dari tantangan tersebut. Ia menyebut Bentang Jawa sebagai pengalaman untuk menguji batas kemampuan diri sekaligus mengetahui seberapa solid hubungan dengan partner dalam kondisi ekstrem.

Kobo dan Teddy terus mengayuh di tengah gelapnya malam, berdampingan menaklukkan jalan demi menuntaskan 1.500 km Bentang Jawa 2026. (Foto: @thoriq_wibisono)

Sementara itu, Teddy menilai salah satu lokasi yang paling berkesan adalah kawasan Jemplang. Tanjakan dengan gradien berat membuat tubuh terkuras, tetapi panorama yang tersaji setelahnya memberikan kepuasan tersendiri. Ia juga menilai rute Bentang Jawa 2026 menghadirkan banyak kejutan, termasuk tambahan jalur makadam dan tanjakan yang membawa peserta ke jalur-jalur terpencil. “Ini bukan cuma lomba sepeda. Ini simulasi kehidupan yang dipadatkan menjadi beberapa hari, dengan susah, senang, marah, haru, dan semuanya bercampur di atas sadel,” ucap Teddy.

Bagi pasangan tersebut, keberhasilan menyelesaikan Bentang Jawa juga menjadi pelajaran tentang kesabaran, komunikasi, dan rasa syukur. Mereka menyadari tubuh manusia mampu bertahan lebih jauh dari perkiraan, sementara hal-hal sederhana seperti mandi dengan air bersih, tidur di kasur empuk, dan duduk tanpa rasa sakit menjadi sesuatu yang sangat berharga setelah perjalanan panjang. Teddy bahkan menggambarkan Bentang Jawa 2026 dengan satu kata, “sadis”, tetapi pengalaman itu justru membuatnya ingin kembali mengikuti ajang tersebut tahun depan.

Di kilometer 1.400, Teddy sempat harus opname karena kondisi tubuh yang drop. (Foto: @thoriq_wibisono)

Setelah mencapai garis finis, Kobo dan Teddy merasakan campuran lega, haru, dan kelelahan setelah berhari-hari mengayuh sepeda. Pelukan dengan partner menjadi penutup perjalanan yang penuh tantangan tersebut. Keduanya juga memberikan pesan kepada calon peserta berikutnya agar tidak hanya mempersiapkan kemampuan fisik melalui latihan tanjakan dan endurance, tetapi juga memperkuat mental serta memilih partner yang memiliki frekuensi dan komunikasi yang baik. Bagi mereka, kemenangan sesungguhnya bukan sekadar menjadi yang tercepat, melainkan mampu mencapai garis finis dengan selamat dan tetap menjaga hubungan baik dengan partner.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....