Dua Pesepeda Ndalem Hanoman akan Taklukkan Bentang Jawa 2026

  • 12 Agt 2026 09:22 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Dua pesepeda dari perwakilan Ndalem Hanoman, Andika Permana Putra yang akrab disapa Kobo dan Rusteddy atau Teddy, bersiap menghadapi ajang Bentang Jawa 2026. Keduanya akan menghadapi tantangan menempuh rute sejauh 1.500 kilometer dengan total elevasi sekitar 17.500 meter.

Ajang tersebut diikuti sekitar 200 peserta, termasuk pesepeda dari mancanegara, sementara dari Yogyakarta terdapat kurang lebih 15 peserta.

Bagi Kobo, keikutsertaan dalam Bentang Jawa 2026 menjadi kesempatan untuk menguji batas maksimal kemampuan dirinya. Selain mengejar tantangan fisik dan mental, ia ingin menikmati keindahan alam Pulau Jawa melalui rute-rute yang belum pernah dilaluinya menggunakan sepeda.

“Saya ingin mencari batas maksimal kemampuan diri dan menikmati keindahan pemandangan serta rute-rute yang belum pernah dilalui di Pulau Jawa dengan cara yang paling menantang,” ujarnya.

Bentang Jawa 2026 juga menjadi pengalaman pertama bagi Kobo. Sebelum mengikuti event tersebut, ia lebih banyak membangun base endurance melalui rutinitas bersepeda harian serta gowes bersama peloton pada akhir pekan.

Dalam persiapannya, ia menjaga volume latihan sekitar 30 hingga 50 kilometer setiap hari dan menyempatkan long ride sejauh 100 kilometer pada Sabtu atau Minggu. Rutinitas tersebut menjadi fondasi untuk membangun daya tahan menghadapi perjalanan ekstrem.

Kobo siap menguji batas diri dalam Bentang Jawa 2026 (Foto: @juliansomadewa.photo)

Kobo menargetkan dapat menyelesaikan seluruh rute dengan kondisi kuat dan aman serta tetap berada dalam batas Cut-Off Time (COT). Baginya, menuntaskan perjalanan sejauh 1.500 kilometer merupakan kemenangan utama, sedangkan catatan waktu menjadi bonus. Ia menyadari perjalanan sepanjang itu membutuhkan strategi yang matang, terutama dalam mengatur kecepatan, waktu istirahat, dan asupan energi.

“Di rute 1.500 kilometer, ngebut di awal adalah jebakan. Strategi saya menjaga HR tetap stabil, mengoptimalkan waktu tidur dan efisiensi rest stop, serta memastikan asupan kalori tidak pernah putus,” katanya.

Dari sejumlah bagian lintasan, jalur pesisir selatan menjadi salah satu yang paling dinantikan karena menawarkan panorama laut lepas dan jalan pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Sementara itu, tanjakan menuju Bromo melalui Jemplang diperkirakan menjadi segmen paling berat karena harus dihadapi setelah jarak tempuh melewati 1.000 kilometer.

Persiapan menghadapi medan berat juga dilakukan dengan memasukkan rute-rute dengan gradient curam ke dalam latihan akhir pekan. Selain gowes harian 30 hingga 50 kilometer, long ride 100 kilometer tetap menjadi bagian dari rutinitas. Latihan tersebut dilakukan untuk menyimulasikan kondisi medan yang akan dihadapi selama perjalanan, terutama dengan total elevasi yang mencapai sekitar 17.500 meter.

Kobo mempersiapkan sepeda dan mental untuk menghadapi Bentang Jawa 2026. (Foto: @juliansomadewa.photo)

Sementara itu, Teddy menilai konsistensi menjadi tantangan terbesar dalam persiapan menuju Bentang Jawa 2026. Ia harus membagi waktu antara aktivitas sehari-hari, latihan, recovery, dan target tetap berada di atas sadel setiap hari. Meski menghadapi tuntutan latihan yang cukup berat, Teddy mengaku belum pernah berada pada kondisi hampir menyerah. Dukungan keluarga dan teman-teman komunitas turut membantu menjaga motivasinya selama menjalani persiapan.

Untuk menjaga energi, Teddy mengandalkan kurma dan pisang sebelum gowes jarak jauh, ditambah kopi untuk membantu menjaga fokus pada pagi hari. Saat berada di atas sadel, ia menyiapkan real food serta suplemen elektrolit. Ia juga menjadikan bayangan garis finis sebagai salah satu sumber motivasi untuk terus mengayuh.

“Setiap kayuhan, sekecil apa pun, membawa saya lebih dekat ke tujuan. Membayangkan garis finish membuat saya terus bergerak maju,” ucapnya.

Bagi Teddy, Bentang Jawa 2026 memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar event olahraga. Ia memandang perjalanan tersebut sebagai pengalaman spiritual dan kesempatan untuk berdialog dengan diri sendiri ketika berada pada titik kelelahan paling berat.

Teddy bahkan memilih tanjakan dibandingkan turunan karena kepuasan setelah mencapai puncak dianggap jauh lebih bernilai. Dengan target menyelesaikan perjalanan dalam kisaran empat hingga lima hari, ia akan mengatur ritme gowes dengan tetap memperhitungkan waktu istirahat dan keselamatan.

Sepeda Kobo dipersiapkan menjadi partner untuk menaklukkan Bentang Jawa 2026. (Foto: @juliansomadewa.photo)

Sejumlah perlengkapan juga dipersiapkan untuk menghadapi perjalanan panjang, mulai dari powerbank, lampu sepeda cadangan, jas hujan, chamois cream hingga ban dalam. Teddy menyebut penggunaan sepeda YOELEO untuk melintasi rute Bentang Jawa 2026 akan menjadi pengalaman tersendiri. Ia juga mengajak seluruh peserta untuk mengutamakan keselamatan dan menjaga semangat kebersamaan selama berada di lintasan.

“Ride safe, ride smart. Kita semua akan menderita, jadi mari nikmati penderitaan ini dan saling menyapa saat bertemu di jalan,” ujarnya. Teddy juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang memberikan dukungan di sepanjang rute.

Sorakan, tepuk tangan, maupun klakson ramah dari pinggir jalan dinilainya mampu menjadi tambahan energi ketika kaki peserta mulai kelelahan. Setelah mencapai garis finis, ia telah menyiapkan hadiah sederhana untuk dirinya sendiri, yakni mandi air hangat, menikmati makanan paling enak dan pedas, kemudian tidur seharian tanpa memasang alarm.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....