Nadal-Federer Roma 2006: Sebuah Pertandingan Epik Sepanjang Masa?
- 07 Mei 2026 09:31 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Turnamen tenis Internazionali BNL d'Italia pernah menggelar pertandingan final yang luar biasa. Dua petenis papan atas dunia pada tahun 2006, Roger Federer dan Rafael Nadal menjalani pertandingan epik selama lima jam.
Debu tanah liat mengepul di udara. Rafael Nadal berbaring telentang dan seluruh penonton di lapangan tanah liat Foro Italico bergemuruh. Nadal meraih kemenangan dramatis 6-7(0), 7-6(5), 6-4, 2-6, 7-6(5). Sebuah peristiwa sejarah yang belum tentu akan terulang.
Pertemuan kedua petenis legendaris itu selalu menjadi pusat perhatian pecinta tenis dunia. Nadal yang masih remaja mengejutkan petenis peringkat 1 dunia Roger Federer dengan meraih kemenangan 6-3, 6-3 dalam pertemuan pertama mereka pada tahun 2004 di Miami Open.
Pada tahun 2005, kedua petenis ini saling beradu kekuatan. Meski Federer tetap menjadi kekuatan dominan, namun Nadal bangkit dengan cepat, terutama di lapangan tanah liat.
Monte-Carlo, Barcelona, dan Roland Garros dikuasai Nadal pada musim itu. Petenis Spanyol itu mulai membangun kekuatan yang tangguh, sesuatu yang bahkan Federer kesulitan untuk menahannya.
Saat menjalani turnamen Internazionali BNL d'Italia, Nadal datang dengan rekor sebelas kemenangan beruntun di lapangan tanah liat, setelah meraih trofi di Monte-Carlo dan Barcelona. Federer, yang masih peringkat 1 dunia, sedang mencari jawaban, bertekad untuk menghentikan dominasi Nadal yang semakin meningkat di lapangan tanah liat tersebut.
Perjalanan menuju partai final Internazionali BNL d'Italia di Roma menceritakan kisahnya sendiri. Nadal melaju mulus, hanya kehilangan satu set. Sementara Federer harus berjuang dalam pertarungan tiga set yang melelahkan melawan Nicolas Almagro dan David Nalbandian.
Setelah kekalahannya di final Monte-Carlo, Federer berjanji untuk mengambil inisiatif lebih agresif dalam pertemuan mereka berikutnya. Terbukti saat bertanding di Roma, ia menepati janjinya.
Petenis Swiss itu terus maju tanpa henti, maju ke net 84 kali dan memenangkan 64 poin di antaranya dalam pertandingan lima jam mereka. Untuk sebagian besar waktu, ia mengendalikan permainan. Pukulan forehand-nya mendikte permainan, memaksa Nadal melebar dan membuka lapangan dengan sudut-sudut tajam.
| Baca juga: Alexander Zverev Hentikan Laju Rafael Jodar |
Federer memenangkan set pertama dengan tie-break yang sempurna. Ia unggul 4-2 di set kedua tetapi tidak mampu memanfaatkannya. Ia melaju kencang di set keempat dengan skor 6-2 untuk memaksa set penentu dan di set kelima ia unggul 4-1 dan memiliki dua match point pada servis Nadal di 6-5, 15/40, menyia-nyiakannya dengan kesalahan.
Federer kemudian unggul 5/3 di tie-break set kelima, namun, setelah itu justru semuanya lepas. Tiga kesalahan dilakukannya dan empat poin beruntun untuk Nadal. Gelar juara lepas, dan Nadal meraih jawara.
Nadal berguling-guling di lapangan tanah liat setelah kemenangannya dan kemudian memeluk timnya. Kemenangan itu membawa petenis Spanyol itu meraih 53 kemenangan beruntun di lapangan tanah liat, menyamai rekor Guillermo Vilas. Hasil itu juga membuat petenis berusia 19 tahun itu sejajar dengan Bjorn Borg dengan 16 gelar yang diraih saat masih remaja.
Setelah momen itu, Nadal kemudian memenangkan 81 pertandingan beruntun di lapangan tanah liat. Namun akhirnya Federer-lah yang mematahkan rekor tersebut di Hamburg pada Mei 2007.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....