Budaya Bermukun Pertahankan Keunikan Pantun dan Sopan Santun Melayu

  • 01 Okt 2026 21:18 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Bermukun Se-Borneo berlangsung meriah dengan penampilan magendang, bernyanyi, dan berpantun. Nyanyian-nyanyian indah dan tuturan halus menjadi keunikan dari budaya bermukun etnik Melayu di Pulau Kalimantan atau Borneo.

Yogyakarta kali ini menjadi tuan rumah dalam kegiatan Bermukun Se-Borneo 2026. Puncak acara digelar di Auditorium RRI Yogyakarta pada Kamis, 1 Oktober 2026. Setelah sebelumnya diadakan di Brunei Darrussalam.

Ibeng, penyampai sekaligus pemantun bermukun menyampaikan alasan Yogyakarta menjadi tuan rumah kegiatan ini karena Yogyakarta dijuluki sebagai Kota Pelajar dan Kota Budaya sehingga harapannya dapat menarik penonton lebih banyak.

”Sebelumya kegiatan ini kami akan laksanakan di Kalimantan. Tapi karena melihat kondisi efek karhutla, kami pindahkan ke tempat lain. Yogyakarta menjadi tempat yang unik karena banyak universitas dan budaya-budaya,” ujarnya.

Pemandu acara Indonesia, Ibeng mengatakan balas membalas pantun secara spontan menjadi keunikan sekaligus tantangan dalam bermukun. ”Kita harus berpantun dengan spontan. Tantangannya itu sambil berbalas-balas di atas panggung”, ujar dia.

Ibeng juga berharap budaya bermukun ini sampai pada generasi sekarang khususnya masyarakat Melayu Borneo sebagai perpanjangan tangan budaya Bermukun.

Bermukun ini dihiasi dengan beberapa peran yang menghidupkan penampilan. Mohd Yusni bin Mohamed Ali, Ketua Delegasi RTM, menerangkan ada peran pengendang, pemain biola, gambus, penyanyi, dan pemantun yang menghidupkan kegiatan bermukun.

”Dari segi talent utamanya perlu ada pegendang, perlu ada biola, perlu pemain gambus, perlu ada penyampai-penyampai yang boleh menyanyi secara berpantun. Itu antara elemen-elemen penting dalam memukun,” ucap Mohd Yusni.

Noor Hawadah binti Ramle, Ketua Delegasi RTB, menggaris bawahi sopan santun dalam bermukun. Penyampaian pantun dan bernyanyi ditekankan untuk disampaikan secara halus dan sampai ke hati pendengar dengan baik.

”Dalam penyampaian bermukun kita gunakan irama-irama mukun ini untuk menyampaikan berbagai bentuk dalam berbagai bentuk nasihat. Kita usahakan untuk menyampaikannya dengan cara yang halus tanpa perlu menyakitkan orang itu,” ucapnya. (Asriadi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....