Yahya Jahangiri Sebutkan Kunci Islam Menjadi Jembatan Peradaban Dunia

  • 25 Sep 2026 00:20 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta — Integrasi antara wawasan global, nilai-nilai kebangsaan, dan identitas keislaman dinilai menjadi kunci utama dalam membangun peradaban pendidikan Islam dunia bagi Generasi Z saat ini.

Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan Konselor Kebudayaan Kedutaan Besar Iran, Dr. Yahya Jahangiri, saat meninjau model pendidikan berbasis Civilization dan nilai-nilai lokal di Afkaruna Islamic School, Yogyakarta.

Yahya mengungkapkan bahwa model pembelajaran yang memadukan tiga elemen utama, yaitu perspektif global, identitas keislaman, dan nilai-nilai tradisi kesantrian sangat relevan dengan arah pembangunan pendidikan di Iran maupun dunia internasional.

”Pendidikan dan iman bertujuan untuk mengabdi bagi seluruh umat manusia. Kita harus peduli pada pembangunan peradaban di seluruh dunia. Kombinasi antara nilai lokal santri dan wawasan global inilah yang sangat dibutuhkan oleh Generasi Z,” ujar Dr. Yahya.

Menurutnya, keterbukaan lembaga pendidikan lokal dalam mengadopsi kurikulum internasional tanpa meninggalkan akar budaya Nusantara menjadi jembatan strategis untuk membuka ruang kolaborasi baru, termasuk pertukaran budaya dan akademisi antara Indonesia dan Iran.

”Sekolah ini benar-benar luar biasa dan membuka wawasan saya hari ini karena tiga elemen utamanya. Saya pikir mereka perlu saling bertukar budaya, pengalaman, dan pencapaian dengan pihak Iran, mengingat Kementerian Pendidikan Iran juga sangat berfokus pada nilai-nilai nasional,” ucapnya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Afkaruna, Dr. K.H. Samsul Maarif Mujiharto menegaskan bahwa prinsip pendidikan yang dijalankan bersifat kolektif dan komprehensif. Pembentukan karakter murid tidak memisahkan antara nilai keagamaan dan wawasan internasional, melainkan mengintegrasikannya secara utuh baik di dalam maupun di luar kelas.

”Pada prinsipnya pendidikan adalah langkah kolektif komprehensif. Artinya adalah international mindedness dengan keislaman dilakukan secara kolektif komprehensif dalam aktivitas di dalam kelas maupun di luar kelas. Di dalam kelas misalnya menggunakan Embridge dan di luar kelas ada program-program yang mendukung visi keislaman dan keinternasionalan,” ujarnya.

Pertemuan bernuansa diplomatik tersebut berlangsung hangat dan dipandu langsung oleh santri Afkaruna Islamic School menggunakan bahasa Arab. Keberanian serta kelancaran Aliyah Ridlo saat memandu jalannya forum di hadapan para diplomat menuai pujian dan apresiasi tinggi.

”Ini pertama kalinya saya menjadi MC berbahasa Arab. Saya juga sangat tersentuh dengan pujian yang didapatkan. Hal ini saya harap bisa menjadi orang yang lebih terbuka,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....