Intip Keseruan Perhelatan Pencak Wisata Budaya ke-5, dari Malioboro hingga Turi
- 27 Agt 2026 08:47 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Gelaran warisan seni bela diri Nusantara kembali membuktikan daya pikatnya. Komunitas Paseduluran Angkringan Silat (PAS) Yogyakarta kembali menggelar perhelatan kebudayaan agung tahunan Pencak Wisata Budaya (PWB) ke-5. Acara rutin yang digelar setiap tahun genap ini, akan berlangsung selama tiga hari penuh pada tanggal 27 hingga 29 Agustus 2026 berpusat di jantung Kota Yogyakarta dan Desa Turi (Camp Pencak Silat).
Koordinator Paseduluran Angkringan Silat, Suryadi mengatakan, PWB 5 menghadirkan deretan agenda edukatif hingga ruang ekspresi ekonomi kreatif bagi masyarakat. Hal ini sekaligus menjadikan PWB merupakan panggung diplomasi budaya dan wahana edukasi publik yang menegaskan, bahwa Pencak Silat bukan sekadar warisan tradisi fisik belaka, melainkan manifestasi kearifan lokal yang sarat akan nilai-nilai luhur Bangsa Nusantara.
"Gelarannya terbagi dalam dua agenda besar. Setiap tahun genap kita melangsungkan Pencak Wisata Budaya, sementara tahun ganjil difokuskan untuk Pencak Malioboro Festival," katanya, Rabu, 26 Agustus 2026.
Surya menyebutkan, pada PWB 5 akan ada sekitar 6 agenda besar seperti, sarasehan atau seminar pencak silat tradisional dengan judul "Pencak Silat Tradisional di Persimpangan Zaman" di GIK UGM, Camp Puncak Wisata Budaya yang kelima dipusatkan di wilayah Kecamatan atau Kapanewon Turi.
"Yang ketiga, ada namanya Lomba Koreografi Pencak Anak yang memperebutkan Piala Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam X, yang dipusatkan di titik nol Yogyakarta, yaitu di Taman Pintar. Jadi itu gelarannya mulai dari hari Jumat dan Sabtu," ucapnya.
Selain lomba Koreografi, Surya menjelaskan, di Taman Pintar akan ada sejumlah kegiatan seperti lomba mewarnai gambar pencak silat untuk PAUD, TK, dan SD, termasuk Workshop Pencak Silat yang bisa diikuti masyarakat luas. Sedangkan untuk memberikan kontribusi dari sisi ekonomi, PWB 5 juga menghadirkan Bazar Pencak Silat di Taman Pintar.
"Puncak acara di tanggal 29 September, kita akan menggelar sebuah gelaran yang ini mungkin belum ada di Indonesia, namanya Sabetan Mencak. Jadi itu nanti seperti apa, ya bisa dilihat di malam Minggunya, kita akan tampilkan bagaimana Sabetan Mencak yang terdiri dari beberapa komunitas pencak silat yang kemudian kita jadikan sebuah pertunjukan," ujarnya.
Sejak UNESCO menetapkan Tradisi Pencak Silat sebagai Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 12 Desember 2019 di Bogota, Kolombia, tanggung jawab moral bangsa Indonesia untuk menjaga, merawat, dan mentransmisikan seni beladiri ini menjadi semakin krusial. Namun, di tengah gempuran modernisasi dan dinamika globalisasi, kerap kali terjadi pergeseran persepsi dimana pencak silat hanya dipandang sebatas olah fisik, beladiri praktis, atau olahraga prestasi semata.
Yosi dari PAS menambahkan, sarasehan yang akan menghadirkan narasumber dari akademisi seperti Profesor Wening hingga Demang Ahmad praktisi pencak silat tradisional dari Kalimantan, termasuk Jack Richer salah satu pesilat dari Colorado, Amerika Serikat. Sarasehan ini krusial untuk membuka ruang diskusi mengenai nasib silat tradisional yang sering kali tidak terwadahi oleh regulasi formal olahraga seperti IPSI.
"Saat ini ada lebih dari 5.000 perguruan silat tradisional tersebar di Indonesia. Lewat sarasehan ini, kita berdiskusi bersama akademisi untuk mencari wadah dan perhatian yang tepat, termasuk melalui ranah kebudayaan," katanya, melanjutkan.
Yosi menyampaikan, tak hanya sarasehan, ajang ini turut menjadi arena diplomasi budaya internasional melalui kegiatan Camp Pencak Wisata Budaya. Sebanyak 22 peserta warga negara asing (WNA) yang bekerja sama dengan Kantor Urusan Internasional (KUI) UGM diajak mendalami tradisi Yogyakarta. Negara-negara yang terlibat antara lain Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Rusia, Jepang, Ukraina, hingga Brunei Darussalam.
"Sedangkan Sabetan Mencak, yang hadir dari teman-teman Koreografer muncul idenya dari battle dance. Tapi kami coba padukan battle dance ini berupa bentuk pencak silat," ujarnya, mengungkapkan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi menjelaskan, gelaran PWB 5 ini menjadi salah satu rangkaian acara Bulan Warisan Dunia dengan tajuk "Manjing Ajur Ajer". Menurutnya, puncak perayaan yang dikemas dalam Street Art Malioboro Festival dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026 di sepanjang kawasan Malioboro hingga Margo Mulyo.
Acara puncak ini ditandai dengan penyerahan resmi sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Gubernur DIY kepada lima Bupati/Wali Kota serta pihak Keraton Yogyakarta.
"Puncaknya akan ada di pintu gerbang barat ya, Pintu Gerbang Barat Kepatihan. Nah, (tanggal) 29 ini istimewa, kami booking jalan Malioboro-Margo Mulyo ini mulai pagi jam 5 sampai jam 11 malam," ujarnya, menerangkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....