Panen 4.000 Ton Bawang Merah, Kementan Nilai Bantul Mampu Jadi Sentra Hortikultura
- 20 Agt 2026 20:47 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Bantul – Para petani di Kalurahan Parangtritis, Kretek, Bantul, menggelar panen raya bawang merah di lahan seluas 200 hektare pada Kamis, 20 Agustus 2026. Agenda akbar yang juga dihadiri oleh Kementerian Pertanian, Pemda DIY, Pemkab Bantul, serta jajaran direksi LPP RRI ini, mencatatkan hasil memuaskan dengan produksi mencapai 4.000 ton bawang merah.
Direktur Perbenihan Ditjen Hortikultura Kementan, Muhammad Agung Sunusi, menyatakan bahwa rata-rata produktivitas bawang merah di lokasi ini berada di angka 20 ton per hektare. Jumlah tersebut menurutnya menjadi potensi besar dalam memperkuat ketersediaan bawang merah di Kabupaten Bantul sekaligus menopang kebutuhan komoditas tersebut di DIY.
“Ini tentunya memberikan sumbangsih bagi ketersediaan bawang merah di DIY. Dari data BPS, 66–70 persen kebutuhan bawang merah DIY itu disuplai dari Kabupaten Bantul,” ucapnya.
Besarnya kontribusi tersebut membuat pengembangan bawang merah di Bantul memiliki posisi strategis. Menurutnya, capaian tersebut merupakan salah satu upaya menjaga stabilitas harga pangan.
“Karena sekali lagi ini menjadi penyangga komoditas bawang merah khususnya DIY. Kalau ketersediaan ini terjaga, maka paling tidak inflasi bisa terjaga,” ujarnya.
Meski produksi bawang merah di Bantul masih berada di bawah sejumlah sentra bawang nasional, pemerintah menilai bahwa potensi peningkatan produksi masih dapat dilakukan. Setidaknya, Kabupaten Bantul bisa mewujudkan swasembada bawang merah.
“Secara nasional memang masih di bawah Brebes, Enrekang, atau Solok. Namun, setidaknya kami berharap agar bisa swasembada dulu di tingkat Kabupaten. Kalau produksinya surplus, tentunya bagus,” katanya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani “Tirto Asih”, Nanto Pratomo (73), mengungkapkan bahwa masa tanam (MT) kali ini lebih baik dari sebelumnya. Ia menilai produktivitas tersebut tidak lepas dari penyeragaman masa tanam.
“Hasilnya lebih baik sekarang, karena waktu tanamnya diatur oleh Gapoktan. Jadi pola tanam itu harus serempak, kalau MT pertama itu di bulan Maret, maka MT kedua di bulan Juni atau Juli,” ucapnya.
Selain itu, melimpahnya hasil panen juga didukung dengan penerapan elektrifikasi pertanian. Dengan berkurangnya biaya, maka keuntungan yang diperoleh juga lebih tinggi.
“Kalau pakai pompa air, itu dari pagi sampai sekitar pukul 10.00 WIB sudah habis dua liter BBM. Kalau sekarang pakai listrik, itu untuk menyirami 1.000 meter persegi paling besar hanya Rp2.000. Jadi untungnya sekali,” ucapnya menambahkan.
Selain produktivitas yang tinggi, harga bawang merah di tingkat petani saat ini juga cukup baik. Dengan harga Rp18.000 per kilogramnya, hasil panen bawang merah di Bantul diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan para petani.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....