Buku 'Takhta, Darma, & Karsa' Warisi Semangat Bapak Pramuka Indonesia

  • 14 Agt 2026 20:04 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di tengah tantangan krisis karakter, pragmatisme, dan derasnya disrupsi digital, pemikiran serta keteladanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX kembali dihadirkan untuk menjawab kebutuhan generasi muda Indonesia. Melalui peluncuran buku “Takhta, Darma, & Karsa: Pemikiran, Karya, dan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengku Buwono IX”, masyarakat diajak untuk tidak sekadar mengenang sejarah, melainkan menghidupkan kembali semangat pengabdian beliau.

Buku tersebut resmi diluncurkan oleh Sri Sultan Hamengku Bawono X pada Kamis 13 Agustus 2026 di Auditorium Sukarman, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta. Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas bekerja sama dengan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY).

Buku tersebut resmi diluncurkan oleh Sri Sultan Hamengku Bawono X pada Kamis 13 Agustus 2026 di Auditorium Sukarman, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta. Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas bekerja sama dengan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY).(Foto:Choiri/Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas)

Dalam sambutannya, Sri Sultan Hamengku Bawono X menegaskan bahwa sebuah buku pada hakikatnya adalah instrumen untuk menahan peradaban agar tidak cepat berlalu. Menurutnya, takhta sejatinya bukanlah privilege melainkan tanggung jawab, sedangkan karsa bukanlah ambisi pribadi melainkan kehendak mengabdi dengan tulus.

"Keteladanan yang tidak diteruskan hanya akan menjadi kenangan, tetapi yang dihayati akan menjadi peradaban," tegas Sri Sultan HB X.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. Abdul Mu'ti, yang hadir sebagai keynote speaker, menyoroti pentingnya karya ini sebagai rujukan utama pendidikan karakter dan kebijakan integrasi kepramukaan berbasis sekolah. Ia menekankan bahwa keimanan kepada Tuhan—sebagaimana tertuang dalam Dasa Darma—merupakan pembeda utama Pramuka Indonesia dengan gerakan kepanduan lainnya di dunia.

Ditulis oleh Dr. Harto Juwono, M.Hum. dan Anis Ilahi Wahdati, M.Si., buku ini disusun bukan sekadar sebagai biografi personal, melainkan sebuah historiografi gagasan dan filosofi kepemimpinan Sri Sultan HB IX. Gagasan utamanya terangkum dalam trilogi:

  • Takhta: Instrumen kekuasaan.
  • Darma: Bentuk pengabdian.
  • Karsa: Kehendak luhur yang menggerakkan kekuasaan dan pengabdian demi kedaulatan bangsa serta kesejahteraan rakyat.

Buku ini memotret tonggak sejarah ketika Sri Sultan HB IX mengubah arah kepanduan dunia melalui pidato legendarisnya di Tokyo pada 1971, “Scout Action for Community Development”. Beliau menggeser fokus kepanduan dari sekadar rekreasi petualangan hutan (woodcraft) menjadi bakti nyata pembangunan masyarakat pedesaan (rural development). Gagasan revolusioner ini mengantarkan beliau meraih Bronze Wolf Award pada tahun 1973, penghargaan tertinggi dalam gerakan kepanduan dunia.

Ketua Kwarda DIY, GKR Hayu, menyampaikan bahwa filosofi "Takhta untuk Rakyat" melalui "Jalan Mukti" mengisyaratkan bahwa mengabdi di Gerakan Pramuka bukanlah tempat memburu tanda jasa atau kedudukan. "Gerakan Pramuka adalah ruang suci kerelawanan tempat kita menempa kedaulatan mental dan ketahanan karakter generasi muda," ujar GKR Hayu.

Buku ini memotret tonggak sejarah ketika Sri Sultan HB IX mengubah arah kepanduan dunia melalui pidato legendarisnya di Tokyo pada 1971, “Scout Action for Community Development”.(Foto:Choiri/Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas)

Senada dengan hal tersebut, Ketua Kwartir Nasional Budi Waseso mengapresiasi penerbitan buku ini agar nilai-nilai keteladanan Kak Sultan tetap relevan dan bergerak mengikuti perkembangan zaman. Sementara itu, Ketua Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas, Acep Somantri, menilai pemikiran Sri Sultan HB IX sangat krusial bagi penyiapan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.

Sebagai langkah konkret pasca-peluncuran, Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas merencanakan pembentukan “Bapak Pramuka Indonesia Fellowship” yang ditargetkan meluncur pada 12 April 2027 mendatang untuk terus melestarikan nilai-nilai kepemimpinan tersebut.

Peluncuran buku ini turut didukung oleh Perpustakaan Nasional, ANRI, Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), dan Penerbit Andi Offset Yogyakarta, serta dihadiri oleh perwakilan BPIP, Lemhannas, Kwartir Daerah se-Indonesia, dan tokoh-tokoh pegiat pendidikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....