Kala 1.000 Difabel Bacakan Proklamasi dengan Bahasa Isyarat di Gedung Agung
- 13 Agt 2026 12:39 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Suasana di halaman depan Gedung Agung Yogyakarta tampak sangat ramai dan meriah pada Rabu, 12 Agustus 2026 mulai pukul 16.00 WIB. Sebanyak 1.000 penyandang disabilitas berkumpul bersama untuk membaca teks Proklamasi menggunakan bahasa isyarat. Aksi kompak ini dilakukan dalam acara bertajuk "Suara Inklusi untuk Semua" yang diadakan oleh Diwa Foundation bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Pemerintah Provinsi DIY, serta Pemerintah Kota Yogyakarta. Berkat aksi luar biasa tersebut, acara ini berhasil mencatatkan sejarah baru dan meraih penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Masyarakat dan wisatawan yang sedang melintas di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta terlihat antusias menyaksikan momen langka ini. Walau tanpa bersuara nyaring, gerakan tangan seribu peserta saat menyampaikan pesan Proklamasi terasa sangat tegas dan menyentuh hati para penonton. Penyerahan piagam rekor MURI kepada penyelenggara menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya dan mencatatkan prestasi di tingkat nasional.
Acara tidak hanya diisi dengan pembacaan Proklamasi semata, tetapi juga dimeriahkan oleh berbagai pertunjukkan seni yang menghibur. Anak-anak penderita Down Syndrome dan rekan-rekan difabel tampil percaya diri membawakan tarian yang lincah di atas panggung. Selain menari, mereka juga mempunyai hasil lukisan yang tak kalah dari anakanak normal pada umumnya . Penampilan polos dan penuh semangat dari anak-anak ini disambut dengan tepuk tangan meriah dari seluruh tamu undangan dan masyarakat yang hadir.

Beberapa hasil lukisan karya anak-anak down syndrom yang dipamerkan di "suara inklusi untuk semua". (Foto: Afifah Zahra)
Pemerintah pusat turut memberikan dukungan penuh terhadap pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas, khususnya di bidang pendidikan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr H Abdul Mu'ti, MEd, menyampaikan bahwa pemerintah akan terus berusaha menyediakan sekolah dan tempat belajar yang ramah bagi semua anak. "Pemerintah berkomitmen menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu, inklusif, fleksibel, serta terjangkau bagi seluruh anak Indonesia tanpa terkecuali," ujar Bapak Abdul Mu'ti. Pada kesempatan itu, beliau juga menyerahkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) dan tas sekolah kepada para siswa SD, SMP, hingga SLB.
Dukungan serupa juga datang dari para wakil rakyat dan pemerintah daerah setempat. Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, S.E. atau yang akrab disapa Bu Titik, menjelaskan bahwa kepedulian terhadap sesama adalah wujud nyata dari sikap gotong royong bangsa Indonesia. Sementara itu, Wakil Gubernur DIY, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam X, saat membacakan sambutan Gubernur DIY menyampaikan bahwa pencapaian rekor MURI ini harus menjadi langkah awal yang baik. "Rekor MURI ini menjadi batu loncatan penting untuk memperkuat semangat persatuan serta memastikan hak yang setara bagi seluruh warga negara," ucap Bapak Paku Alam X.
Selain bantuan pendidikan, kegiatan sosial ini juga memberikan bantuan tempat tinggal bagi warga yang membutuhkan. Lewat kerja sama antara PT KAI, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dan Diwa Foundation, diserahkan bantuan program bedah rumah secara simbolis. Bantuan ini diberikan langsung kepada perwakilan keluarga disabilitas agar mereka bisa memiliki hunian yang lebih layak dan nyaman.
Saat pendar matahari sore mulai memudar dan suasana berganti tenang menjelang azan Magrib berkumandang, rasa haru memuncak di area panggung. Founder Diwa Foundation sekaligus Ketua Panitia, Diah Warih Anjari atau Bu Diyah, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu mensukseskan acara ini. "Diwa Foundation didirikan sebagai wujud pengabdian total untuk membuka ruang kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas dan seluruh anak bangsa tanpa membeda-bedakan," ujar Ibu Diyah.
Kegiatan "Suara Inklusi untuk Semua" di depan Gedung Agung Yogyakarta sore itu akhirnya ditutup dengan suasana hangat dan penuh kebersamaan. Lewat acara ini, seluruh masyarakat diingatkan kembali bahwa setiap warga negara memiliki hak, kesempatan, dan kedudukan yang sama di dalam kehidupan bermasyarakat. (Afifah zahra dt)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....