Tantangan Pendidikan Pancasila di Kampus adalah Menginternalisasi Nilai
- 27 Jul 2026 22:04 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi tidak lagi cukup diajarkan sebagai materi hafalan ataupun sekadar mata kuliah wajib. Nilai-nilai Pancasila harus dihidupkan sebagai landasan etik yang membentuk cara berpikir, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta menyelesaikan persoalan masyarakat.
Gagasan tersebut menjadi benang merah dalam Simposium Nasional Pendidikan Pancasila bertajuk “Melalui Integrasi Ilmu, Spiritualitas, dan Kebangsaan: Penguatan Ideologi Pancasila dalam Perspektif Integratif, Interkonektif, dan Transformatif” yang diselenggarakan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui Centre for Integrative, Interconnected, and Transformative Studies (CIINTRA) bekerja sama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin, 27 Juli siang.
Simposium yang berlangsung secara hybrid ini diikuti sekitar 250 peserta secara luring di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga dan peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring dari berbagai perguruan tinggi, lembaga pemerintah, serta komunitas akademik di Indonesia.
Antusiasme peserta terlihat sejak pembukaan hingga sesi panel ilmiah, menunjukkan tingginya perhatian terhadap penguatan Pendidikan Pancasila yang relevan dengan tantangan bangsa saat ini.
Acara dibuka secara resmi melalui pemukulan gong oleh Kepala BPIP, Prof KH Yudian Wahyudi, MA, PhD, didampingi oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi serta para narasumber yang hadir, menjadi simbol dimulainya forum ilmiah nasional untuk merumuskan penguatan Pendidikan Pancasila melalui pendekatan integratif, interkonektif, dan transformatif.
Dalam sambutannya, Direktur CIINTRA UIN Sunan Kalijaga sekaligus Ketua Panitia, Prof Dr Eva Latipah, menyampaikan, tantangan terbesar Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi bukan lagi pada kemampuan mahasiswa menghafal lima sila, melainkan bagaimana nilai-nilai tersebut mampu diinternalisasikan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari maupun praktik profesional.
Menurutnya, Pendidikan Pancasila harus bergeser dari pendekatan normatif menuju pembelajaran yang mampu menghubungkan nilai-nilai Pancasila dengan persoalan nyata di berbagai bidang, mulai dari kesehatan, teknologi, ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan.
“Mahasiswa tidak cukup hanya menghafal Pancasila. Nilai-nilai Pancasila harus menjadi cara berpikir, cara mengambil keputusan, sekaligus menjadi landasan etis dalam setiap disiplin ilmu,” ujarnya.
Eva menjelaskan, kehadiran CIINTRA merupakan bagian dari ikhtiar UIN Sunan Kalijaga untuk mengembangkan paradigma integratif, interkonektif, dan transformatif, yaitu mempertemukan ilmu pengetahuan, spiritualitas, kemanusiaan, dan kebudayaan dalam satu kerangka keilmuan yang utuh. Dalam paradigma tersebut, Pancasila ditempatkan sebagai horizon of ethics yang membimbing pengembangan ilmu sekaligus transformasi sosial.
“Ilmu tidak boleh berhenti pada gagasan. Ilmu harus mentransformasikan cara berpikir, cara bertindak, dan cara menyelesaikan persoalan masyarakat. Melalui simposium ini kami berharap lahir model Pendidikan Pancasila yang integratif sehingga nilai-nilainya hadir dalam seluruh bidang keilmuan,” kata dia.
Membuka simposium, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Noorhaidi Hasan menegaskan, penyelenggaraan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pengembangan ideologi Pancasila melalui pendekatan keilmuan yang menjadi identitas kampus.
Pada kesempatan tersebut, Rektor memberikan penghormatan kepada dua tokoh yang memiliki peran besar dalam perjalanan UIN Sunan Kalijaga, yakni Prof Dr HM Amin Abdullah, Rektor UIN Sunan Kalijaga periode 2001–2010, dan Prof KH Yudian Wahyudi, MA, PhD, Rektor periode 2016–2024. Keduanya dinilai telah meletakkan fondasi kuat bagi perkembangan UIN Sunan Kalijaga melalui kepemimpinan yang visioner pada masanya.
Amin Abdullah dikenal sebagai penggagas paradigma integrasi-interkoneksi keilmuan yang menjadi identitas akademik UIN Sunan Kalijaga. Sementara Yudian Wahyudi memperkuat transformasi kelembagaan, internasionalisasi, dan peningkatan daya saing kampus. Berkat kontribusi keduanya, UIN Sunan Kalijaga terus berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi Islam terbaik di Indonesia.
Rektor juga menyinggung capaian terbaru UIN Sunan Kalijaga yang berhasil menempati posisi PTKIN terbaik di Indonesia berdasarkan Webometrics serta memperoleh pengakuan internasional melalui Times Higher Education (THE) Impact Rankings. Menurutnya, capaian tersebut merupakan buah dari konsistensi UIN Sunan Kalijaga dalam mengembangkan paradigma integrasi ilmu yang kini memperoleh pengakuan di tingkat global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....