Program AI Teaching Power Latih 58.968 Tenaga Pendidik di Indonesia
- 30 Jun 2026 13:15 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Kementerian Agama bekerja sama dengan Microsoft Elevate dan NU Care Global by LAZISNU berhasil melatih 58.968 tenaga pendidik melalui Program AI Teaching Power.
Program yang berlangsung sejak November 2025 hingga Juni 2026 ini bertujuan meningkatkan kemampuan pendidik dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara praktis, etis, dan relevan dalam pembelajaran.
Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, mengatakan transformasi digital di lingkungan pesantren harus tetap berpijak pada nilai dan karakter pendidikan Islam. Menurutnya, AI bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan menjadi sarana meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Kita ingin pesantren siap menghadapi perkembangan teknologi melalui transformasi digital yang adaptif, namun tetap berpijak pada nilai, adab, dan karakter pendidikan Islam. AI harus menjadi instrumen untuk memperkuat kualitas pembelajaran, bukan menggantikan peran guru maupun tradisi keilmuan pesantren,” ujar Basnang, Senin 29 Juni 2026.
Basnang menambahkan, pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada pelatihan jangka pendek.
“Pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan Islam tidak boleh berhenti sebagai pelatihan jangka pendek, melainkan berkembang menjadi gerakan nasional peningkatan kapasitas guru, ustaz, dan tenaga pendidik pesantren secara berkelanjutan,” ucapnya
Selama pelaksanaannya, Program AI Teaching Power menghasilkan 92.052 sertifikasi kompetensi. Sekitar 29,33 persen peserta berasal dari pondok pesantren, disusul MTs/sederajat sebesar 23,94 persen, MA/sederajat 20,28 persen, MI/sederajat 15,92 persen, institusi pendidikan lainnya 7,55 persen, serta TK/PAUD 2,98 persen.
Program ini melibatkan 12.418 institusi pendidikan dan diproyeksikan memberi dampak kepada lebih dari 2,3 juta murid dan santri di seluruh Indonesia.Hasil evaluasi program juga menunjukkan peningkatan kompetensi yang signifikan.
Sebelum mengikuti pelatihan, 81 persen peserta berada pada kategori kompetensi rendah dan hanya 9 persen yang masuk kategori tinggi. Setelah pelatihan, sebanyak 89 persen peserta berhasil mencapai kategori kompetensi tinggi, sedangkan kategori rendah turun menjadi 4 persen.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa pelatihan yang memadukan literasi digital, praktik penggunaan AI, dan pendampingan implementasi mampu meningkatkan kesiapan tenaga pendidik dalam memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab untuk mendukung proses pembelajaran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....