Harganas 2026, Bangun Ketangguhan Keluarga Penentu Arah Pembangunan Nasional

  • 29 Jun 2026 15:01 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) / Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wihaji menegaskan, ketangguhan keluarga bukan lagi sekadar pilihan alternatif, melainkan sebuah keharusan yang mutlak dan menjadi urgensi nasional. Hal tersebut disampaikan dalam amanatnya saat Upacara peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang digelar di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Senin, 29 Juni 2026.

Wihaji mengingatkan, peringatan Harganas tahun ini bukan sekadar seremoni, tetapi harus dijadikan sebagai jeda kultural dan refleksi nasional. Hal ini untuk mengevaluasi kembali peran keluarga di tengah gempuran zaman modern yang penuh ketidakpastian.

"Mari kita tengok kembali rumah kita dan bertanya, sudahkah keluarga kita menjadi tempat bernaung yang aman, tangguh, dan siap melahirkan generasi pemenang?," katanya, Senin, 29 Juni 2026.

Wihaji mengungkapkan, saat ini manusia dihadapkan pada panggung peradaban modern yang bergerak cepat, yang sering disebut sebagai era VUCA. Sebuah lanskap global yang dicirikan oleh gejolak perubahan cepat atau volatility, ketidakpastian atau uncertainty, kerumitan atau complexity, dan kebingungan arah atau ambiguity.

" Hari ini, disrupsi teknologi digital dan pergeseran nilai sosial masyarakat masih tampak permisi ke ruang keluarga melalui gawai di genggaman anak-anak kita. Jika institusi keluarga rapuh, arus zaman ini akan dengan mudah menggilas masa depan mereka, maka ketangguhan keluarga bukanlah pilihan alternatif, melainkan keharusan mutlak dan urgensi nasional," ucapnya.

Wihaji menegaskan, ketangguhan keluarga yang tercipta berkolerasi linier dengan masa depan bangsa. Karena menurutnya, bonus demografi yang didapatkan saat ini, merupakan peluang yang bisa melesatkan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Tetapi, kondisi ini bisa berubah menjadi bencana demografi, ketika diungkapkan Wihaji, yang terjadi justru ledakan pengangguran dan runtuhnya stabilitas sosial, akibat ledakan usia produktif yang tidak berkualitas. Untuk itu, transformasi kualitas sumber daya manusia tidak bisa ditunda dan itu tidak dimulai dari bangku sekolah atau dunia kerja, melainkan dari dalam rahim ibu dan pengasuhan keluarga.

Untuk mengkapitalisasi bonus demografi, Mendukbangga mengajak seluruh masyarakat harus memperkuat tiga pilar utama dalam pembangunan keluarga. Yang pertama, kesehatan, pendidikan karakter, dan kesehatan mental.

Pada sisi kesehatan, Wihaji menjelaskan, masalah stunting harus dituntaskan di Indonesia, karena anak yang terhambat perkembangan otaknya akan kesulitan bersaing di era kecerdasan buatan. Pemenuhan gizi di 1.000 hari pertama kehidupan harus menjadi gerakan nasional di setiap dapur keluarga.

Sedangkan pada pendidikan karakter, rumah harus menjadi madrasah abad 21. Karena dari rumah ditanamkan integritas, kejujuran, dan kedisiplinan untuk mencetak manusia adaptif dan kolaboratif. Sementara lanjut Wihaji, sisi ketahanan mental, keluarga harus menjadi pelabuhan emosional yang stabil di tengah era yang penuh tekanan agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang resilien dan tidak mudah menyerah.

Lebih lanjut Wihaji kembali mengingatkan, perbaikan kualitas SDM mustahil terwujud jika beban pengasuhan hanya diletakkan di pundak ibu. Sehingga pada momen peringatan Harganas ini ia berpesan, khususnya kepada para ayah di seluruh Indonesia, Kehadiran fisik dan kedekatan emosional seorang ayah adalah penentu kestabilan struktur kepribadian anak.

"Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam fenomena fatherless country. Di mana ayah hadir secara fisik namun absen secara psikologis," ujarnya.

Tantangan di depan mata saat ini, ketika peran orang tua digantikan perangkat gawai. Ditegaskan Muhaji, sudah saatnya orang tua mengambil perannya kembali, jangan biarkan masa depan dan pola pikir anak-anak kita dikuasai oleh algoritma digital yang tidak bermoral, serta jangan biarkan meja makan sunyi karena semua sibuk menatap layar.

"Wahai para ayah, letakkan gawai anda di rumah. Peluk anak-anakmu, ajak mereka berdialog dan batasi waktu layar mereka pada hal-hal yang produktif," katanya, mengungkapkan.

Mendukbangga menyebutkan, kelalaian, pengasuhan dan absennya figur orang tua ini memiliki dampak langsung pada meledaknya patologi sosial yang mengerikan hari ini. Seperti terjadinya tawuran antara terpelajar, perundungan atau bullying, pergaulan bebas, hingga cengkraman narkoba yang menjadi alarm darurat bahwa fungsi keluarga sedang malfungsi.

Menurut Wihaji, anak-anak yang terjerumus dalam kekerasan atau narkoba seringkali adalah mereka yang kurang kasih sayang di rumah sehingga mencari pelarian semu di jalanan. Oleh karena itu Ia mengimbau, agar seluruh orang tua untuk menangkal semua ancaman ini dari dalam rumah kita sendiri.

"Jangan tunggu anak kita menjadi korban atau pelaku, benteng pertahanan terbaik adalah ketahanan keluarga. Jadikan rumah sebagai tempat yang paling aman dan dirindukan bukan sehingga ke mana-pun anak kita melangkah magnet kehangatan keluarga akan selalu menarik mereka pulang ke jalan yang benar," ujarnya, menegaskan.

Wihaji menekankan, keluarga bukan sekedar unit terkecil masyarakat melainkan hulu dari segala kebijakan publik dan penentu arah pembangunan nasional. Kemajuan ekonomi dan infrastruktur yang megah tidak akan bermakna tanpa diimbangi oleh kualitas SDM yang bermoral dan bermental baja.

"Mari rapatkan barisan, kepalkan tangan dan satukan tekad demi kehormatan bangsa serta masa depan generasi penerus kita. Mari kita bangun keluarga Indonesia yang sehat, cerdas dan berkarakter mulia di tengah tantangan era VUKA ini, agar kita siap memetik buah manis bonus demografi dan mewujudkan impian besar Indonesia emas 2045," ujarnya, mengakhiri.

Usai memimpin upacara di Benteng Vredeburg, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga beserta rombongan melanjutkan rangkaian khidmat dengan melakukan ziarah serta tabur bunga ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara sebagai bentuk penghormatan atas nilai-nilai perjuangan para pahlawan bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....