Kepala BKKBN: Komunikasi Keluarga Kunci Cegah Gangguan Kesehatan Mental Anak
- 29 Jun 2026 11:19 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, mengingatkan pentingnya komunikasi dalam keluarga sebagai upaya mencegah meningkatnya gangguan kesehatan mental pada anak. Menurutnya, persoalan tersebut menjadi tantangan serius yang perlu ditangani bersama.
Saat menghadiri kegiatan Ngopi Lintas 3 Generasi di Kompleks Balai Kota Yogyakarta, Jumat, 27 Juni 2026, Wihaji menyebut sekitar 34 hingga 35 persen anak mengalami gangguan kesehatan mental. Dari jumlah itu, sekitar separuhnya berpotensi berkembang menjadi gangguan kejiwaan.
"Di Indonesia 25 persen kehilangan sosok ayah, artinya di Indonesia ada 46 juta keluarga yang mempunyai anak umur 10-24 tahun. Dari 46 juta itu 25 persen kehilangan sosok ayah, akhirnya 34 hingga 35 persen anak kita mengalami gangguan mental atau kesehatan mentalnya terganggu," kata Wihaji.
Ia menilai salah satu penyebabnya adalah semakin berkurangnya interaksi antara orang tua dan anak. Kesibukan bekerja membuat banyak keluarga kehilangan waktu untuk membangun komunikasi yang berkualitas.
Selain itu, perkembangan teknologi membuat anak lebih banyak berinteraksi dengan media sosial dibandingkan dengan orang tua. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi pola pikir hingga kesehatan psikologis anak.
Karena itu, pemerintah terus mengampanyekan pentingnya peran ayah melalui tema Hari Keluarga Nasional (Harganas) tahun ini, yakni "Ayah Wajib Hadir". Kehadiran ayah dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan mental anak.
Wihaji juga menyebut Yogyakarta menjadi salah satu daerah yang dapat menjadi contoh dalam pembangunan keluarga. Namun, tingginya keberagaman masyarakat di kota ini juga menghadirkan tantangan tersendiri dalam persoalan kesehatan mental.
Ia berharap seluruh unsur masyarakat dapat terlibat dalam membangun keluarga yang sehat, mulai dari pemerintah, sekolah, tokoh masyarakat, hingga orang tua. Dengan demikian, anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat secara fisik maupun mental.
"Ini pembelajaran yang luar biasa bagaimana kita memberikan contoh yang baik termasuk penanganan mental. Harus diakui bahwa problem-nya sangat serius. Harapannya dengan kayak gini kita jangan lelah untuk terus mengkampanyekan tentang pentingnya kesehatan mental kepada generasi kedepan, karena setuju tidak setuju anak kita adalah generasi yang akan akan menggantikan kita," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....