Menkes Sebut Ketahanan Kesehatan Bukan Lagi Pilihan tetapi Keharusan

  • 27 Jun 2026 12:27 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa membangun ketahanan kesehatan nasional yang mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan syarat mutlak bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan kelas menengah (middle-income trap).

Menurutya, pengalaman pandemi COVID-19 menunjukkan setiap negara akan memprioritaskan kebutuhan rakyatnya sendiri saat terjadi krisis. Karena itu, Indonesia harus memiliki kedaulatan kesehatan, mulai dari produksi vaksin hingga obat-obatan.

“Belajar dari pandemi COVID-19, saat krisis melanda, setiap negara pasti akan menyelamatkan rakyatnya sendiri terlebih dahulu. Untuk itu, negara sebesar Indonesia dengan 280 juta penduduk wajib memiliki kedaulatan kesehatan sendiri, mulai dari vaksin hingga obat-obatan,, Kita tidak boleh lagi hanya bergantung pada belas kasihan negara lain” ujar Budi.

Ia mengatakan ketergantungan Indonesia terhadap impor produk kesehatan telah ditekan dari lebih dari 90 persen menjadi sekitar 70–80 persen. Pemerintah juga memfasilitasi produksi 35 bahan baku obat (Active Pharmaceutical Ingredients/API) di dalam negeri, serta menargetkan pabrik pengolahan plasma darah di Karawang mulai berproduksi pada awal 2027.

“Kita ingin belanja kesehatan kita yang tumbuh 12-13% per tahun itu tidak lari ke luar negeri, tapi berputar di dalam negeri untuk menciptakan lapangan kerja dan menumbuhkan PDB,” ucapnya.

Sebagai bagian dari strategi ketahanan regional, Indonesia kini telah memiliki tiga perusahaan vaksin dengan kapasitas produksi yang meningkat hingga 60%. Tak hanya itu, Indonesia juga mulai memosisikan diri sebagai pusat (hub) riset di ASEAN.

Untuk memperkuat sistem pertahanan kesehatan nasional, Kemenkes telah menyusun National Action Plan for Health Security (NAPHS) 2025–2029. Rencana ini didukung oleh pendanaan dari Pandemic Fund untuk meningkatkan kapasitas deteksi dan respons cepat terhadap wabah.

Berdasarkan kajian bersama Bank Dunia, setiap investasi USD 1 di sektor kesehatan diprediksi akan menciptakan dampak ekonomi (multiplier effect) sebesar USD 3. Dengan menargetkan peningkatan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 ke 76 tahun, sektor kesehatan berpotensi menyumbang tambahan 5-6% terhadap PDB nasional, selama seluruh ekosistem industrinya dibangun di dalam negeri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....