Konferensi dan Silatnas Ulama, Milad ke-109 Aisyiyah Perkuat Dakwah Kemanusiaan
- 19 Mei 2026 10:13 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Gelar Refleksi Milad ke-109 Tahun pada 19 Mei 2026 Aisyiyah merefleksikan perjalanannya yang berusia lebih dari satu abad dengan mengangkat tema "Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian." Tema tersebut menegaskan komitmen Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan dalam menghadirkan nilai lslam rahmatan lil-'alamīn yang menebarkan kedamaian, kasih sayang, serta perlindungan bagi seluruh umat manusia.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah, Salmah Orbayyinah mengatakan, di tengah situasi global yang diwarnai meningkatnya konflik dan kekerasan, perempuan menjadi kelompok yang paling rentan sekaligus penggerak penting dalam membangun perdamaian. Data global menunjukkan meningkatnya kekerasan berbasis konflik termasuk kekerasan seksual, dan meningkatnya jumlah pengungsi perempuan dan anak.
Kondisi ini, diungkapkan Salmah, mempertegas pentingnya kehadiran gerakan masyarakat sipil, termasuk organisasi perempuan, dalam menghadirkan solusi berbasis kemanusiaan dan keadilan sosial. Penguatan dakwah kemanusiaan untuk mewujudkan perdamaian merupakan menjadi salah satu isu strategis yang telah ditegaskan dalam Muktamar Aisyiyah ke-48 di Surakarta, yakni pentingnya memperkuat persatuan bangsa serta membangun budaya damai di tengah tantangan konflik sosial, kekerasan, dan polarisasi masyarakat.
Di satu sisi, perempuan dan anak maupun kelompok rentan, menjadi kelompok yang rentan terdampak konflik maupun kekerasan, namun di sisi lain perempuan juga merupakan agen penggerak dalam mengupayakan perdamaian hingga penyelesaian konflik.
"Aisyah ingin mengangkat dalam hal ini ee dakwah Aisyah selama ini adalah dakwah kemanusiaan, yang salah satunya adalah untuk mewujudkan perdamaian. Perdamaian itu juga sebenarnya bisa juga terbentuk tanpa tiadanya perang, tetapi kan kondisi perang saat ini pasti mempengaruhi, jadi Aisyah merasa sangat prihatin dengan kondisi saat ini, jadi kita selalu terus-menerus mengingatkan bahwa perdamaian itu sangat penting, sangat penting sekali," katanya, Senin, 18 Mei 2026.
Salmah menegaskan, nilai-nilai perdamaian selalu diangkat terutama dalam dimensi ketauhidan, dimensi Illahiyah, dan kedamaian bisa diwujudkan melalui dimensi kemanusiaan dan dimensi insani. Menurutnya, kedamaian paling mendasar bisa terwujud ketika terjadi di keluarga.
"Kalau keluarga damai insyaallah kedamaian itu akan kemudian menular di masyarakat. Kalau masyarakat damai tentunya akan membuat negara ini juga menjadi damai. Tentunya itu juga akan nanti secara global akan terpengaruh juga gitu dan yang ketiga adalah dimensi kaumiah itu adalah dimensi alam," ucapnya.
Di tingkat global, 'Aisyiyah juga berpartisipasi dalam jejaring kemanusiaan internasional, seperti Faith to Action (F2A) sebagai bagian dari kontribusi perempuan Indonesia dalam agenda perdamaian dunia.
Sekretaris Umum PP Aisyiyah yang juga menjadi anggota Supervisory Council F2A, Tri Hastuti Nur Rochimah mengatakan, perempuan merupakan subjek dan agen perdamaian yang berperan penting di tingkat keluarga, komunitas, nasional, hingga global. Aisyiyah sebagai organisasi perempuan muslim yang mendasarkan pada nilai-nilai Islam Berkemajuan penting berkontribusi dalam upaya membangun perdamaian dan memperkuat gerakan kemanusiaan di tingkat global.
"Aisyah melihat juga bahwa sebenarnya banyak hal yang hal-hal yang laten yang tidak nampak, tapi bisa memunculkan konflik, memunculkan yang tidak berada kedamaian di dalam masyarakat kita. Oleh karena itu mempromosikan budaya damai sebenarnya lewat keluarga itu menjadi sangat penting sekali," ujarnya.
Tri Hastuti mengungkapkan, sebagai organisasi perempuan muslim, Aisyiah juga fokus terhadap keluarga, sehingga mempromosikan dan menginternalisir budaya damai di dalam keluarga menjadi sangat penting. Bahkan, di era digital saat ini banyak dipertontonkan polarisasi masyarakat yang sangat luar biasa dan hal ini bisa memicu konflik-konflik horizontal yang ada di dalam masyarakat.
"Era digital ini juga kalau tidak dikelola dengan baik, tidak kita sampaikan kepada semuanya, bagaimana bermedia sosial yang baik, maka polarisasi yang selama ini sudah ada, juga akan menjadi semakin kuat. Apalagi misalnya demokrasi kita yang one man one vote itu dimulai dari tingkat desa, pasca pilihan lurah gitu saya kira juga ini sangat rawan sekali, maka kemudian Aisyah punya kepentingan untuk bagaimana mempromosikan budaya damai," katanya, mengungkapkan.
Dalam momen Milad ke-109 ini, Pimpinan Pusat 'Aisyiyah juga menyelenggarakan Konferensi dan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Ulama Aisyiyah dengan tema "Konstruksí Pemikiran Ulama Aisyiyah: Respons Terhadap Isu Keumatan dan Kebangsaan". Kegiatan ini menjadi forum strategis bagi ulama perempuan Aisyiyah dari seluruh Indonesia untuk bertukar pandangan, memperkuat kapasítas keulamaan, dan merumuskan jawaban atas isu-isu keagamaan, sosial, dan perempuan dari perspektif Tarjih Muhammadiyah.
Ketua PP Aisyiyah yang juga Wakil Koordinator Steering Committee, Evi Sofia Inayati menyampaikan, Silatnas Ulama Aisyiyah bukan sekadar silaturahmi biasa, tetapi juga shilatul-fikr, dan akan menjadi agenda rutin ke depannya. Menurutnya, kegiatan ini menjadi medium bagi ulama perempuan dalam mengkaji, mendiskusikan, dan mengambil keputus n terkait isu perempuan, yang selama ini sering ditetapkan oleh ulama laki-laki.
"Đi sinilah perempuan benar-benar menentukan arah pemikiran dan kebijakan keislaman yang dikemas dalam tafsir dan fikih," katanya, menjelaskan.
Acara dikuti secara hybrid oleh lebih dari 280 peserta, terdiri dari ulama Aisyiyah tingkat pusat, wilayah, dan daerah, serta alumni pendidikan keulamaan Aisyiyah. Koordinator Steering Committee, Siti Aisyah menekankan, Silatnas ini memperkuat peran ulama perempuan sebagai motor penggerak Aisyiyah dan pembentuk opini keagamaan yang berkemajuan, moderat, inklusif, berbasis keilmuan, dan mencerahkan.
Siti Aisyah menekankan, melaluí Silatnas, Aisyiyah ingin menegaskan komitmennya pada pengembangan ulama perempuan yang mampu menjawab tantangan keumatan, kemasyarakatan, kebangsaan, dan kemanusiaan, khususnya dalam memperjuangkan keadilan perempuan, dan berkontribusi pada kemajuan masyarakat Indonesia secara Islami dan beradab.
"Materi yang dibahas, mencakup tafsir tematik perempuan berkemajuan, fikih perempuan, kesehatan reproduksi, peran perempuan dalam ibadah, dan perlindungan anak," ucapnya, menambahkan..
Siti Aisyah yang juga Ketua PP Aisyiyah mencontohkan beberapa isu perempuan yang dibahas, antara lain; problem perkawinan anak; nikah siri; perjanjian pra nikah; pengasuhan anak sebagai tanggung jawab bersama ayah dan ibu; perencanaan keluarga melalui penggunaan IUD, vasektomi, dan tubektomi; prinsip monogami dalam keluarga; nirkekerasan dalam keluarga termasuk isu nusuz suami maupun istri, hingga isu perlindungan perempuan dalam isu talak dan idah.
Siti Aisyah mengungkapkan, seiring dengan dinamika pemikiran keislaman, terdapat beragam pemikiran keagamaan dalam merespons permasalahan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal, khususnya yang terkait dengan isu perempuan dan anak. Pembahasan isu-isu perempuan dan anak dalam perspektif Islam Berkemajuan menjadi penting, imbuh Aisyah, karena di tengah pemikiran menempatkan perempuan pada ranah domestik maka faham Islam yang dikembangkan oleh Keagamaan yang cenderung tradisionalis atau memahami nash-nash Islam secara tekstual, dan Muhammadiyah-Aisyiyah mewakili pemikiran moderat atau wasatiyah yang mencakup wawasan, sumber ajaran, pendekatan bayani, burhani, dan 'irfani, serta metode yang bersifat hirarkis, integralistik, dan berorientasi pada kebermanfaatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....