Cara Siswa GDA dan KTB Peringati Hardiknas 2026 Dengan Aksi Nyata
- 02 Mei 2026 17:35 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) identik dengan pelaksanaan upacara bendera. Tetapi ada hal menarik yang dilakukan di SMA Global Darussalam Academy (GDA) dan SMA Kemala Taruna Bhayangkara (KTB) memperingati Hari Pendidikan Nasional ke-67.
Melalui inisiatif dari para siswa siswi GDA dan KTB, pada peringatan Hardiknas menggelar SEDARMA (Siswa Kemala Darsa Mengajar), Sabtu, 2 Mei 2026 di SMA GDA. Mengusung tema “Dari Siswa untuk Indonesia: Menata Aksi Nyata, Wujudkan Cinta Pada Bangsa”, alih-alih hanya menjadi peserta didik, para siswa GDA dan KTB mengambil peran sebagai pengajar bagi adik-adik tingkat.
Perwakilan dari KTB, Alexandra Estelle Naisali mengatakan, inisiatif kegiatan ini berawal dari Student Council (Stuco) atau biasa disebut OSIS ingin membuat acara kolaboratif dalam memperingati Hardiknas, sehingga hadir SADERMA. Menurutnya, acara ini diselenggarakan untuk mendorong pelajar berperan dalam aksi nyata, dengan mengenali masalah di lingkungan sekitar, dan berdiskusi serta bekerja sama untuk menyelesaikannya sesuai panduan konsep SMART goals dan GRASPS.
"Kami ingin melakukan sesuatu yang bermakna yang tidak hanya impactful ke kita, tapi impactful juga ke lingkungan sekitar. Berdasarkan apa yang kita pelajari di sekolah itu, kita ingin melakukan kegiatan ataupun menciptakan sesuatu yang berguna bagi lingkungan sekitar kita," katanya.
Siswi kelas 10 ini menyampaikan, melalui kegiatan ini siswa siswi GDA dan KTB mengajak teman-teman kita dari SMP untuk melihat masalah-masalah di sekitar sekolah mereka. Kemudian para siswa yang menjadi pengajar mengajak bersama-sama untuk menemukan solusi dari masalah-masalah tersebut menggunakan metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-Bound) dan GRASPS (Goal, Role, Audience, Situation, Product, Standards).
"Itu merupakan dua metode yang kita gunakan dan dipelajari di proses pembelajaran kegiatan kita sehari-hari, sehingga dengan itulah juga kita dapat mengajarkan kembali kepada adik-adik kita. Sehingga mereka bisa memaknai Hari Pendidikan ini bukan hanya sekolah biasa, tapi bagaimana caranya kita juga bisa melihat masalah di sekitar kita dan menggunakan pendidikan yang telah kita punya untuk mengatasi masalah-masalah di lingkungan mereka," ucapnya.

Rakha Raditya Alfarrasy, dari GDA menyebutkan, metode ini sangat krusial agar aksi sosial yang dirancang siswa tidak sekadar wacana, tetapi terukur dan realistis dengan rancangan yang jelas. Misalnya di lingkungan mereka ada masalah sampah, sehingga diajarkan dengan metode untuk mengatasi masalah itu, mungkin buat bank sampah atau bekerja sama dengan dinas lingkungan atau bekerja sama dengan UMKM untuk mengolah limbah menjadi barang bernilai.
"Intinya, program ini nggak cuma ngajarin teori, tapi langsung membuat aksi sosial nyata," ucapnya.
Meski baru duduk di bangku kelas 10, para pengajar muda ini mampu mencairkan suasana. Program yang sebelumnya telah melalui tahapan sosialisasi daring selama tiga kali ini ditutup dengan pertemuan tatap muka yang penuh energi, mulai dari pembuatan yel-yel, permainan, hingga sesi talkshow.
"Tadi saya sempat tanya-tanya, mereka bilang seru banget. Mereka jadi lebih peka terhadap lingkungan, melatih kepemimpinan, kolaborasi, dan kepedulian sosial," katanya, menambahkan.
Menariknya, untuk memperkuat nilai inklusivitas dan wawasan praktis, SEDARMA turut menggandeng Komunitas Sadar Belajar, yang merupakan komunitas pendidikan yang diinisiasi oleh mahasiswa di Yogyakarta sejak masa pandemi 2020 ini memiliki fokus kuat pada pendampingan belajar bagi anak-anak rentan, termasuk penyandang disabilitas.
Kehadiran praktisi dari Komunitas Sadar Belajar diharapkan mampu memberikan perspektif yang komprehensif bagi para peserta. Dengan demikian, rancangan aksi sosial yang dilahirkan oleh siswa-siswi SMP ini nantinya tidak hanya inovatif, tetapi juga peka terhadap nilai-nilai inklusi dan memberikan dampak nyata yang berkelanjutan bagi masyarakat luas.
Bagi Alexa dan Raka, SEDARMA bukan hanya tentang mengajar, melainkan proses belajar dua arah (two-way learning).
"Kami belajar bagaimana bersosialisasi dengan karakter orang yang beragam dan membuka pikiran terhadap isu-isu sosial. Kita bisa mulai mengubah dunia dengan mengubah lingkungan sekitar kita dulu," ujar Alexa, mengakhiri.
Aksi kolaborasi antara GDA, KTB, dan berbagai mitra seperti Gadjah Mada Digital Academy ini menjadi bukti bahwa semangat Hardiknas telah berevolusi. Pendidikan bukan lagi soal duduk diam di kelas, melainkan tentang keberanian siswa untuk melangkah keluar dan menjadi bagian dari solusi.
Diikuti 96 siswa dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari 16 sekolah dari DIY dan sekitarnya, dengan 10 siswa siswi yang menjadi pengajar membuat SEDARMA bukan sekadar peringatan Hari Pendidikan Nasional, tetapi sebuah gerakan nyata yang mengubah pembelajaran di kelas menjadi aksi berdampak di masyarakat. Kegiatan ini juga menekankan proses melihat masalah, merancang solusi terukur melalui metode GRASPS dan SMART, serta mengimplementasikannya secara berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....