Kecelakaan Maut Kereta di Bekasi, Sofwan Desak Kemenhub-KNKT Investigasi Mendalam

  • 28 Apr 2026 10:08 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Komisi V DPR RI mendesak penyelidikan menyeluruh berkaitan dengan keselamatan transportasi publik pasca insiden kecelakaan kereta di perlintasan kereta api Stasiun Bekasi Timur, Senin, 27 April kemarin. Anggota Komisi V DPR RI Sofwan Dedy Ardyanto, S.PWK bersuara lantang mendesak penyelidikan kasus tersebut.

Sofwan Dedy Ardyanto juga mengucapkan rasa belasungkawa mendalam untuk kasus tersebut. Ia mendesak agar hak para korban dan juga santunan diberikan dengan baik. Terlebih lagi kasus tersebut tidak hanya menyebabkan korban luka-luka, tetapi juga meninggal dunia.

“Pertama, mengucapkan rasa duka yang mendalam kepada para korban dan keluarga korban, baik korban meninggal dunia maupun luka-luka serta meminta segenap stakeholders untuk memberikan dedikasi penuh dalam memberikan pelayanan pengobatan kepada para korban luka-luka, yang saat ini sedang dirawat di rumah-rumah sakit. Termasuk di dalamnya, kemudahan dalam pembiayaan oleh pihak asuransi,” ujarnya.

Kepada awak media, Selasa, 28 April pagi, pria yang karib dengan sapaan akronim SDA itu meminta agar tidak ada upaya mempersulit para korban untuk mendapatkan haknya. “Dalam situasi darurat, tidak boleh ada faktor apapun yang menghambat penanganan korban luka-luka, termasuk faktor administrasi,” kata dia.

Lebih lanjut, legislator asal Fraksi PDI Perjuangan itu meminta investigasi benar-benar dilakukan secara komprehensif. “Kedua, meminta kepada Kementerian Perhubungan dan KNKT (Komisi Nasional Keselamatan Transportasi) untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap seluruh kemungkinan faktor-faktor penyebab kecelakaan,” ujar Sofwan.

Menurut anggota DPR RI dari Dapil VI Jawa Tengah itu, ada beberapa poin investigasi yang perlu didalami. Pertama, pemicu (trigger) penyebab terjadinya kecelakaan beruntun, yang melibatkan KRL, taksi, dan KA Argo Bromo.

Kedua, sistem mitigasi laka, khususnya di stasiun-stasiun padat, yang dilalui baik KRL maupun kereta api jarak jauh. Pertanyaannya, kok bisa petugas atau sistem monitoring digital gagal mendeteksi atau mengantisipasi Kereta Argo Bromo agar tidak melaju sehingga menabrak rangkaian KRL yang sedang berhenti di sebuah stasiun?” kata Sofwan, dengan nada bertanya.

Seluruh kemungkinan yang diduga menjadi penyebab harus diinvestigasi sebagai bahan evaluasi menyeluruh untuk menghindari insiden serupa di masa mendatang. Ketiga, meminta kepada Kementerian Perhubungan untuk melakukan investigasi terhadap laporan masyarakat bahwa armada-armada taksi mobil listrik sering mengalami gangguan teknis.

“Sekaligus untuk menemukan jawaban apakah armada taksi yang ditabrak KRL di lintasan KA Bekasi Timur, dan menjadi penyebab kecelakaan berikutnya, sedang mengalami kendala teknis sehingga berhenti tepat di tengah-tengah perlintasan kereta. Jika perlu dilakukan inspeksi menyeluruh untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat,” ujar anggota parlemen kelahiran Kudus, Jawa Tengah tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....