Polemik Ulil Amri, Haedar Nashir Singgung Warganet Berebut Login ke Muhammadiyah
- 29 Mar 2026 21:51 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Mendapat vonis haram karena berlebaran pada Jumat, 20 Maret pekan lalu dan dinilai tidak taat ulil amri, Muhammadiyah ternyata panen simpati dari para netizen atau warganet. Bahkan banyak yang minat ‘login’ menjadi anggota ormas Islam Muhammadiyah.
Perbedaan penetapan Idulfitri 1447 H menuai polemik di ruang publik, lebih-lebih di media sosial, dan Muhammadiyah menjadi pihak yang dipojokkan oleh oknum. Padahal yang tidak berlebaran pada 21 Maret 2026, bukan Muhammadiyah saja.
Bahkan juga ada beberapa negara yang menyelenggarakan Idulfitri 1447 H sama dengan Muhammadiyah pada 20 Maret 2026. Negara-negara itu antara lain Arab Saudi, Qatar, UEA, Turki, Australia, dan juga Selandia Baru.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyayangkan sikap yang tidak menghargai perbedaan. Terlebih muncul narasi haram jika berseberangan dengan pemerintah, dengan dalil taat ulil amri.
Merujuk Kitab Tafsir At Thabari tentang ayat Ulil Amri di surat An Nisa ayat 58, Haedar menjelaskan, tafsir ulil amri ini berlapis-lapis, bisa dari kekuasaan sampai pemimpin-pemimpin kolektif. Kemudian yang kedua, ulil amri juga adalah ahli ilmu dan ahli fikih, atau ulama.
Munculnya polemik ulil amri, sambung Haedar, akan memicu munculnya ‘batang terendam’ yaitu tentang konsep negara Islam. Sebab tidak bisa langsung melompat ke ulil amri – kekuasaan – ati’ullah wa ati’ur rasul itu bisa jadi polemik soal sistem kekuasaan/sistem pemerintahan Islam.
“Justru itu yang ingin dihindari di negeri kita setelah Piagam Jakarta tahun 1945. Itu yang saya maksud membangkitkan batang terendam itu. Apakah mau mengarah ke sana gitu kan si punya gagasan yang mengharamkan dengan rujukan Ulil Amri itu?” kata ulama kelahiran, Bandung Jawa Barat tersebut.
Tafsir ulil amri, kata Haedar, jika merujuk pada Kitab Tafsir Al Misbah, ulil amri itu dikembalikan pada substansinya, yaitu merujuk pada Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw. Maka. Oleh sebab itu, jika dilihat dari tafsir ini Muhammadiyah sudah menyentuh substansi dari ulil amri.
“Kita sudah memandang kita sudah kembali pada Ar-ruju’ ilal Qur’an was Sunnah dengan KHGT, dengan hisab itu, justru Alquran dan Sunnahnya kuat, berarti kita sudah betul tuh sesuai dengan ayat itu,” ucapnya.
Perbedaan penetapan Idulfitri yang menuai beragam respons dari warganet Indonesia, meski terdapat beberapa akun medsos – bisa jadi pendengung – nyinyir atas keputusan yang diambil Muhammadiyah, akan tetapi dukungan dan simpati ke Muhammadiyah tak kalah banyak.
“Di Medsos, responnya luar biasa positif untuk Muhammadiyah. Jadi memang masyarakat itu kan ya seperti itu dinamika sosial itu, tidak sepenuhnya bisa kita ‘candra’ (prediksi, red) gitu ya, hatta dengan menggunakan otoritas. Justru dengan menggunakan otoritas, jadinya seperti itu,” katanya.
Percakapan media sosial riuh dengan perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 H. Dalam percakapan itu, kata Muhammadiyah menduduki kata kunci teratas sebagai obyek yang banyak dibicarakan warganet. Banyak diantara mereka terkesan dengan gagasan maju yang diusung Muhammadiyah.
“Respons publik dan media sosial, netizen, itu luar biasa pembelaan terhadap Muhammadiyah,” ujar Guru Besar UMY ini.
Salah satu gagasan yang direspon baik oleh warganet, khususnya generasi muda adalah Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Menurut mereka, KHGT merupakan solusi untuk perencanaan waktu-waktu. Seperti waktu untuk libur pada Peringatan Hari Besar Islam (PHBI).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....