Krisis Energi Mengintai, Dr. Raden Stevanus Minta DIY Lakukan Penghematan

  • 29 Mar 2026 08:32 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah yang dilakukan Amerika Serikat dan Israek ke Iran, kini mulai mengirimkan gelombang kejut ke ekonomi domestik Indonesia. Harga minyak mentah dunia yang melambung tinggi dan ancaman blokade jalur logistik energi global memaksa Indonesia untuk segera mengaktifkan "mode darurat" ketahanan energi.

Menanggapi potensi situasi kritis ini, Anggota DPRD DIY dari Partai Solidaritas Indonesia Dr. Raden Stevanus Christian Handoko S.Kom., M.M., memberikan analisis mendalam serta serangkaian rekomendasi strategis guna memitigasi dampak buruk yang mungkin menghantam masyarakat, khususnya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia secara tegas mendukung wacana pemerintah pusat untuk mendorong kebijakan Work From Home (WFH) atau pengurangan durasi waktu kerja sebanyak satu hari dalam sepekan.

"Langkah ini bukan tentang menurunkan produktivitas, melainkan tentang efisiensi kolektif. Dengan mengurangi mobilitas satu hari saja, kita bisa menghemat jutaan liter BBM secara nasional. Secara digital, kita sudah sangat siap untuk sistem kerja fleksibel seperti ini. "Tidak hanya untuk pegawai pemerintah dan swasta, saya juga mendukung agar sekolah, perguruan tinggi melakukan langkah yang sama," katanya, Sabtu, 28 Maret 2026.

Mengingat kerentanan Selat Hormuz saat ini, Dr. Raden Stevanus berharap pemerintah pusat untuk lebih agresif mencari sumber energi alternatif di luar kawasan konflik. Menurutnya, Indonesia tidak bisa lagi menggantungkan nasib energi kita pada satu kawasan yang sedang membara.

"Pemerintah harus berani melirik negara-negara non-Timur Tengah, termasuk menjajaki peluang kerja sama strategis dengan Rusia atau negara-negara di Afrika Barat, demi menjamin stok fisik minyak kita tetap tersedia," ujarnya.

Di level regional, Raden Stevanus meminta, Pemerintah Daerah DIY menjadi teladan dalam penghematan energi (SOP Energy Saving). Ia mengusulkan pengaturan suhu AC di seluruh gedung pemerintahan pada angka 26-27° Celsius, pengurangan penggunaan AC, serta pemadaman listrik yang tidak esensial.

"Penghematan harus dimulai dari kantor-kantor dinas. Ini adalah sinyal kepada masyarakat bahwa situasi sedang tidak biasa-biasa saja. Setiap watt yang kita hemat hari ini adalah nafas untuk esok hari," ucapnya.

Selain energi, fokus utama yang tidak boleh luput adalah ketersediaan bahan pokok. Ia memperingatkan Pemda DIY untuk memperketat pengawasan stok pangan di pasar-pasar tradisional.

"Krisis energi selalu dibarengi dengan ancaman inflasi pangan karena biaya logistik yang naik. Kita harus memastikan 'Lumbung Mataraman' bekerja maksimal dan alur distribusi pangan tetap terjaga. Jangan sampai terjadi kelangkaan barang pokok di DIY yang bisa memicu kepanikan sosial," ujarnya.

Menutup keterangannya, Dr. Raden Stevanus mengajak seluruh elemen masyarakat Yogyakarta untuk kembali pada nilai luhur Kejogjaan, yakni gotong royong dalam menghadapi krisis.

"Situasi global mungkin di luar kendali kita, namun cara kita merespon, dengan penghematan, penggunaan transportasi publik, dan menjaga ketahanan pangan lokal, adalah sepenuhnya ada di tangan kita. DIY harus menjadi daerah tangguh dan adaptif dalam menghadapi dinamika geopolitik ini," ujarnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....