Kepala Perpusnas: Rendahnya Literasi Bukan Soal Minat Baca

  • 13 Feb 2026 20:26 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Aminudin Aziz menilai persoalan rendahnya literasi di Indonesia tidak semata-mata disebabkan minimnya minat baca masyarakat. Menurutnya, keterbatasan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan minat pembaca justru menjadi faktor utama.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Perpusnas saat ini mengelola lebih dari 9,7 juta eksemplar koleksi, yang mencakup buku, majalah, peta, monograf, bahan audiovisual, buku digital, hingga koleksi deposit nasional sebagai rekaman pengetahuan bangsa.

Selain koleksi fisik, Perpusnas juga menyediakan berbagai layanan digital seperti OPAC, Indonesia OneSearch, e-Resources, dan Khastara guna memperluas akses masyarakat terhadap sumber pengetahuan.

Ia menjelaskan dalam penguatan literasi, Perpusnas turut memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), khususnya untuk pelestarian bahasa daerah. Aminudin menyebut, Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, dan sejumlah di antaranya kini terancam punah.

Sejak 2021, Perpusnas telah mengembangkan program pendokumentasian bahasa daerah berbasis teknologi. “Bahasa daerah tidak boleh tiba-tiba hilang. Data kebahasaan harus dikumpulkan, direkam, dan didukung teknologi agar bisa diwariskan lintas generasi,” ujarnya.

Meski demikian, Aminudin menekankan bahwa perkembangan teknologi tidak boleh menggantikan proses berpikir manusia. Ia menekankan literasi harus menjadi fondasi agar teknologi dapat dimanfaatkan secara kritis dan bertanggung jawab.

“Kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi, tetapi kita juga tidak boleh kalah cepat dengan kecerdasan buatan. Literasi menjadi kunci agar masyarakat mampu menyikapi teknologi secara bijak,” katanya.

Aminudin juga menegaskan bahwa penguatan literasi tidak boleh sepenuhnya bergantung pada teknologi digital. Pihaknya tetap memprioritaskan penyediaan buku cetak, khususnya untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Di deaerah tersebut, diungkapkannya buku masih menjadi alat literasi paling efektif. Ketika buku hadir, anak-anak justru menunjukkan antusiasme yang luar biasa, Lebih lanjut, Aminudin menilai literasi digital sangat penting untuk menangkal disinformasi.

Dengan latar belakang keilmuan linguistik forensik, ia menjelaskan bahwa konten bermuatan fitnah dan manipulasi dapat dikenali secara ilmiah. “Literasi digital menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terjebak narasi menyesatkan yang berpotensi merusak kohesi sosial dan kebangsaan,” ucap Aminudin.

Terkait pengukuran literasi, Aminudin menyebut tidak ada satu standar tunggal yang dapat diterapkan secara seragam. Menurutnya, keberagaman Indonesia menuntut pendekatan yang lebih kontekstual.

“Indonesia terlalu beragam untuk diukur dengan satu ukuran global. Karena itu, kami mengembangkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) agar potret literasi lebih adil dan relevan,” katanya.

Ia menambahkan, data literasi seharusnya menjadi dasar perbaikan kebijakan, bukan untuk saling menyalahkan, melainkan memperkuat pembangunan sumber daya manusia. Dengan demikian, Perpusnas terus mendorong penguatan literasi melalui penyediaan bahan bacaan yang relevan, pengembangan taman bacaan masyarakat, serta pendistribusian buku ke sekolah dan desa.

Perpusnas juga menginisiasi Relawan Literasi Masyarakat (ReLima), program literasi berbasis partisipasi masyarakat yang melibatkan mahasiswa dan pemangku kepentingan di tingkat lokal

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....