Ekskavasi Situs Kerta Plered, Ditemukan Jejak Keraton Dinasti Mataram Islam
- 17 Des 2025 16:54 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Yogyakarta: Upaya menguatkan kembali keberadaan situs-situs Kawasan Cagar Budaya Kerta di Plered, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) mulai melakukan ekskavasi atau penggalian arkeologi di lokasi yang diduga keputren Keraton Plered, sejak tahun 2007 silam.
Proses ekskavasi ini ditujukan untuk menelusuri jejak pusat kekuasaan Mataram Islam yang kini nyaris hilang ditelan zaman. Kabid Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya pada Dinas Kebudayaan DIY Dwi Agung Hernanto mengatakan, ekskavasi yang dilakukan Dinas Kebudayaan sejak tahun 2007 silam dengan total lebih dari lima kali pelaksanaan ekskavasi Situs Kerta Plered.
Sedangkan pada tahun 2025 sudah dilakukan dua kali ekskavasi untuk Kedaton Satu. "Hasil ekskavasi ini sebetulnya adalah untuk menambah data kita untuk menguatkan kembali terkunsur-unsur informasi keberadaan situs-situs yang ada di sana," kata Agung di sela Seminar Hasil Pelaksanaan Kegiatan Ekskavasi oleh Dinas Kebudayaan DIY di Kawasan Cagar Budaya Kerta Plered, Rabu (17/12/2025) siang.
Agung menjelaskan, data sementara dalam ekskavasi yang dilakukan menunjukkan, eksistensi alias keberadaan pemerintahan Sultan Agung melalui bangunan di Situs Kerta Plered. Hanya saja pembangunan Keraton Mataram Islam tidak sempat dilakukan karena pada masa tersebut terjadi pertempuran dengan Belanda di masa penjajahan, dan lebih banyak pembangunan di masa Amangkurat I.
"Kedaton satu adalah menguatkan kita bahwa memang pada masa Amangkurat satu ini pembangunan terkait beberapa bangunan keratonnya itu jauh lebih masif, dibanding pada masa Sultan Agung," ucapnya.
Agung menyebutkan, beberapa temuan dalam ekskavasi diantaranya dari pondasi, hanya saja mayoritas struktur bangunan berada di bawah tanah dan terbuat dari batu bata sehingga banyak yang hilang. Apalagi sebelumnya tidak ada yang mengurusi sehingga ada yang digunakan masyarakat untuk membangun rumah, jalan, dan sebagainya.
"Sehingga pada masa berikutnya, kita sudah kehilangan berapa data yang ada di atas, dan yang masihkan hanya data yang ada di dalam tanah. Makanya salah satunya ya melalui ekskavasi ini yang bisa kita temukan, tapi kalau yang lain memang ada beberapa temuan lepas kayak keramik, kemudian pecah-pecahan gerabah dan sebagainya, tapi yang paling banyak adalah struktur pondasi," ujar Agung.
Ia menyebutkan, hampir seluruh kawasan Situs Kerta Plered sudah dilakukan ekskavasi dan hanya beberapa titik yang perlu dijajaki terutama di sisi Barat Daya. Hanya saja terkait kelanjutan proses ekskavasi akan didiskusikan dengan tim ahli.
"Memang ada beberapa Umpak yang ada di Kerta, tapi itu mungkin asumsi juga karena memang Umpak itu kan bangunan di atasnya mesti kayu, ini yang sampai sekarang belum ditemukan," katanya, lebih lanjut.
Bukti keberadaan keraton
Sementara itu, Tim Arkeolog UGM Fahmi Prihantoro mengatakan, ekskavasi terakhir dilakukan selama 20 hari dari tanggal 28 November hingga 13 Desember 2025, dengan tujuh tenaga ekskavasi dan 15 tenaga lokal untuk melakukan ekskavasi. Secara umum temuan dari Plered ada beberapa yang diduga struktur dari bangunan.
"Jadi memang secara umum ini lebih hampir sama dengan yang sebelum-sebelumnya begitu. Jadi beberapa temuan struktur batu bata, itu yang kemudian melengkapi bagian dari keraton gitu. Kalau keratonnya saya kira ini sudah bisa dipastikan kawasan itu memang kawasan keraton, jadi dari temuan keramik-keramik asing dan sebagainya, ini menunjukkan memang ini dimanfaatkan sebagai keraton," ujar Fahmi.
Fahmi menyebutkan, dalam merekonstruksi ulang bangunan memang dari segi umur sudah ratusan tahun dan ada tradisi ketika keraton sudah pindah tidak dimanfaatkan kembali. Sehingga banyak situs yang terkubur dan rusak.
"Memang ditinggalkan begitu ya istilahnya, nah, kemudian bersamaan dengan waktu yang cukup panjang dan faktor-faktor alam yang membuat itu rusak kemudian terkubur apalagi kalau di wilayah itu tidak dihuni, tidak cukup banyak hunian, sehingga terkubur. Ini kasusnya sama dengan berbagai peninggalan-peninggalan Majapahit termasuk kalau candi-candi itu juga karena faktor lahar dan sebagainya itu," kata Fahmi.
Dirinya mengungkapkan, tantangan dalam proses ekskavasi karena situs pertama kali ditemukan di wilayah pemukiman yang dihuni, sehingga kerap berbenturan dengan masyarakat. Apalagi situs-situs tersebut terkubur di bawah pemukiman.
"Memang kalau yang ideal, kalau itu dianggap penting memang itu harus dibebaskan begitu, sehingga masyarakat memang harus dipindahkan. Kayak dulu Borobudur dan sebagainya itukan sebagian masyarakat juga dipindahkan, demi untuk kalau memang ini dianggap cukup penting, tetapi seringkali memang itu juga butuh biaya dan sebagainya," kata Fahmi.
Nantinya melalui data-data yang dikumpulkan pada proses ekskavasi ini, akan dibuat narasi di beberapa situs yang dikelola Dinas Kebudayaan, seperti situs Kerta, Kadaton 1, 2, 3, 4 dan seterusnya. (dyan/ros)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....