Dosen UGM: MBG Penting bagi Ibu Hamil dan Bayi
- 24 Jan 2026 20:26 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditargetkan akan memperluas cakupan penerima manfaat. Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana menargetkan 82,9 juta penerima manfaat, diprioritaskan pada ibu hamil dan anak usia 2 tahun. Terget ini diharapkan dapat membantu mengatasi kasus stunting di Indonesia.
Dosen dan peneliti Prodi Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (KKLP) FK-KMK UGM, dr. Fitriana Murriya Ekawati, Ph.D menilai program MBG yang menyasar ibu hamil dan balita usia 0-2 tahun berpotensi menjadi pintu strategis untuk memperkuat layanan pemenuhan gizi. Namun sebaiknya program ini bisa diintegrasikan dengan layanan kesehatan yang sudah berjalan. Seperti pelayanan antenatal, postnatal, serta pemantauan tumbuh kembang balita di Posyandu.
Menurutnya, intervansi gizi pada periode 1.000 hari pertama kehidupan menjadi kunci utama dalam upaya menurunkan prevalensi stunting di Indonesia. Periode tersebut menentukan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta fungsi metabolik anak yang berdampak hingga usia dewasa.
Perluasan program MBG yang menyasar ibu hamil dan anak usia 0-2 tahun menurutnya telah menunjukkan perubahan pendekatan pemerintah dalam intervensi gizi. Jika sebelumnya pemberian makanan tambahan bersifat terbatas pada kelompok tertentu. Kini pemerintah berupaya memastikan kecukupan gizi secara lebih luas pada periode paling krusial dalam siklus kehidupan.
Sementara untuk menilai keberhasilan MBG, menurutnya penurunan angka stunting tidak cukup dijadikan satu-satunya indikator. Indikator lain meliputi status gizi dan kesehatan ibu, penurunan anemia, ASI eksklusif serta meningkatnya pemanfaatan layanan kesehatan primer keluarga.
Selain indikator hasil, ia juga menekankan untuk memperhatikan proses dan kualitas jalannya program. Seperti keamanan pangan tanpa kejadian keracunan (zero defect), kepatuhan standar SPPG, hingga peningkatan literasi gizi setiap keluarga.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa tenaga kesehatan primer di Puskesmas memiliki data penting yang dibutuhkan. Seperti riwayat anemia, hipertensi dalam kehamilan, atau gangguan tumbuh kembang anak yang dapat digunakan untuk personalisasi intervensi MBG.
Dengan demikian, layanan primer bisa memantau apakah intervensi benar-benar memperbaiki status gizi. Sehingga, ia menegaskan pentingnya terjalin kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kualitas pelaksanaan MBG.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....