Mengenal Sistem Cage Free untuk Ternak Ayam Petelur

  • 04 Feb 2025 10:24 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Peternakan ayam petelur bebas sangkar atau cage free menjadi inovasi baru saat ini. Di tengah peternak ayam petelur kebanyakan yang masih menggunakan sangkar dalam produksinya.

Di satu sisi masyarakat saat ini sudah mulai paham dan terbuka akan dampak sangkar ini terhadap animal welfare atau kesejahteraan hewan. Fakultas Peternakan UGM telah membangun model peternakan bebas sangkar ini sejak tahun 2021 lalu. Dengan berkolaborasi bersama perusahaan asal Singapura yakni Global Food Partners.

Di Indonesia bisa dikatakan bahwa mungkin 95 atau bahkan hampir 100 persen peternakan ayam petelur menggunakan model kandang baterai. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Ir. Muhsin Al Anas, S.Pt., IPP. dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada siaran Kawruh bersama dengan RRI Senin (3/2/25).

“Kami salah satu dan bisa dikatakan satu-satunya universitas di Indonesia yang memiliki fasilitas kandang ayam petelur cage free atau bebas sangkar yang sangat modern, semua bisa dikontrol by system seperti itu,” ujarnya.

Dengan berbasis teknologi canggih, proses pemeliharaan ayam petelur bebas sangkar menjadi lebih praktis dan efisien dibanding memakai model lama. Monitoring sistem secara keseluruhan dapat diakses melalui komputer seperti halnya pengaturan kelembaban suhu, amonia, lampu, hingga bobot ayam yang dapat termonitor dengan sangat baik setiap harinya. Selain itu pakan dan minum juga didata secara otomatis.

Kondisi di dalam kandang menurutnya memang perlu disesuaikan dengan kebutuhan ayam agar nyaman dan tidak stress selama proses produksi. Menurut penuturan Muhsin, terdapat dua jenis kandang dalam peternakan ayam petelur yaitu model close house dan open house.

Model kandang close house memiliki kelebihan yang bagus untuk meningkatkan kualitas produksi ayam petelur karena keadaan kandang yang tertutup dan disesuaikan dengan kebutuhan ayam. Namun, model close house membutuhkan investasi yang besar dan dalam jangka waktu yang lama.

"Sedangkan open house adalah kandang yang sifatnya terbuka dan hanya membutuhkan biaya produksi yang lebih sedikit. Namun, sulit untuk mengendalikan keadaan suhu serta cuaca yang dapat mempengaruhi daya produksi ayam," ujarnya.

Terkait pemilihan bibit ayam petelur, Muhsin menjelaskan untuk tahapan pemula tidak disarankan memilih DOC atau Day Olds Chicken yang juga sering disebut dengan kutuk dalam Bahasa Jawa. Karena rawan sakit ataupun mati dalam proses pemeliharaannya.

"Sehingga lebih dianjurkan untuk memilih ayam pullet atau ayam yang sudah siap dan mencapai usia tepat untuk bertelur," kata Muhsin.

Terkait pakan ayam juga harus melalui proses yang sudah diformulasikan khusus berdasarkan kebutuhan nutrien ayam. Faktor perbedaan umur, fisiologis, dan lingkungan akan menciptakan kebutuhan pakan yang berbeda pula.

Tak cukup hanya dengan mengoptimalkan kandang, bibit, dan juga pakan saja, manajemen produksi yang berkaitan dengan pengetahuan serta ketrampilan juga sangat penting sekali dalam proses produksi. Seperti halnya juga dalam manajemen kesehatan ayam agar terhindar dari penyakit yang dapat menyebabkan kematian pada ayam.

"Oleh karenanya, bagi para peternak ayam petelur harus senantiasa mengasah keahlian dalam pemeliharaan produksi ayam petelur ataupun juga bisa bergabung pada kemitraan Peternakan Bebas Sangkar oleh Fakultas Peternakan UGM yang sudah menyandang sertifikasi Internasional Cage Free," ujarnya. (titik/maul/par)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....