Kangkung Bikin Ngantuk? Ini Penjelasan Berdasarkan Penelitian
- 29 Sep 2026 09:37 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kangkung atau Ipomoea aquatica selama ini lekat dengan anggapan masyarakat Indonesia sebagai sayuran yang dapat menyebabkan kantuk setelah dikonsumsi. Anggapan tersebut bahkan berkembang menjadi salah satu mitos kuliner yang cukup populer.
Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kangkung memiliki potensi aktivitas sedatif. Meski demikian, temuan tersebut belum dapat diartikan bahwa mengonsumsi kangkung secara otomatis menyebabkan kantuk pada manusia.
Salah satu penelitian yang diterbitkan Healthy Tadulako Journal menguji ekstrak kangkung air pada 25 ekor mencit. Hasil penelitian menunjukkan adanya efek sedatif pada ekstrak kangkung dengan dosis tertentu.
Pada dosis 4 mg per 20 gram berat badan, efek yang ditemukan secara statistik tidak berbeda dengan diazepam pada model mencit yang digunakan. Temuan tersebut menjadi indikasi adanya potensi farmakologis kangkung, tetapi hasil penelitian pada hewan tidak dapat langsung disamakan dengan efek konsumsi kangkung sebagai makanan pada manusia.
Penelitian lain juga menemukan sejumlah kandungan fitokimia dalam kangkung, termasuk flavonoid dan alkaloid. Studi yang diterbitkan pada 2026 dalam South African Journal of Botany kembali menemukan aktivitas sedatif pada ekstrak kangkung melalui pengujian in vivo.
Para peneliti mengidentifikasi sejumlah senyawa melalui analisis kimia. Namun, penelitian tersebut masih berada pada tahap eksperimental sehingga belum dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa konsumsi kangkung dalam porsi makanan sehari-hari memiliki efek seperti obat penenang.
Ekstrak Berbeda dengan Kangkung sebagai Makanan Perbedaan antara ekstrak dalam penelitian dan kangkung yang dikonsumsi sebagai makanan menjadi hal penting untuk diperhatikan.
Penelitian menggunakan ekstrak dengan dosis tertentu, sedangkan ketika kangkung dikonsumsi sebagai sayuran, jumlah senyawa yang masuk ke tubuh lebih kompleks. Kandungannya juga dapat dipengaruhi oleh porsi dan cara pengolahan.
Karena itu, rasa kantuk setelah makan kangkung tidak serta-merta membuktikan bahwa sayuran tersebut bekerja sebagai obat tidur. Rasa mengantuk setelah makan merupakan fenomena yang dikenal sebagai postprandial somnolence.
Sejumlah penelitian pada manusia menunjukkan konsumsi makanan dapat berkaitan dengan meningkatnya rasa kantuk setelah makan. Salah satu penelitian menemukan bahwa konsumsi makanan padat dapat menurunkan waktu yang dibutuhkan seseorang untuk tertidur dibandingkan dengan konsumsi air dalam kondisi pengujian tertentu.
Namun, penjelasan bahwa rasa kantuk setelah makan semata-mata disebabkan oleh darah yang berpindah dari otak menuju organ pencernaan perlu dilihat secara hati-hati.
Kajian fisiologi menunjukkan postprandial somnolence kemungkinan melibatkan interaksi hormon dari saluran pencernaan, sistem saraf vagus, serta pusat pengatur tidur di otak. Dengan demikian, rasa kantuk setelah makan merupakan respons tubuh yang lebih kompleks daripada sekadar efek satu jenis makanan.
Pada akhirnya, anggapan bahwa kangkung pasti menyebabkan kantuk perlu ditempatkan secara proporsional. Penelitian memang menunjukkan adanya potensi sedatif dari ekstrak kangkung pada hewan dan penelitian eksperimental terbaru.
Namun, bukti tersebut belum cukup untuk menyatakan bahwa mengonsumsi kangkung dalam menu sehari-hari secara langsung menyebabkan kantuk pada manusia.
“Yang perlu dibedakan adalah efek ekstrak kangkung dalam penelitian dengan efek kangkung sebagai makanan. Keduanya tidak bisa langsung disamakan,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....