Angkringan Port Hadirkan Cita Rasa Kuliner Berempah di Bandara Adisutjipto
- 31 Agt 2026 19:38 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Angkringan Port hadir di area kedatangan Bandara Adisutjipto Yogyakarta dengan konsep kuliner khas Yogyakarta. Usaha ini menawarkan makanan angkringan dan minuman rempah bagi penumpang maupun masyarakat.
Angkringan Port berada di Lobi Kedatangan Bandara Adisutjipto dan dikelola Lucia Dwi Dariati sebagai pemilik. Konsep tersebut lahir dari pengamatan terhadap kebutuhan penumpang yang mencari makanan dan minuman hangat setelah tiba di Yogyakarta.
Lucia mengatakan, ide membuka Angkringan Port muncul setelah sebelumnya menjalankan usaha toko roti di Lobi Keberangkatan. Banyak pelanggan kemudian menanyakan keberadaan makanan berat di area bandara yang dapat menjadi pilihan setelah perjalanan.
“Ketika penumpang naik pesawat atau turun dari pesawat, pasti mencari yang hangat-hangat. Saya sendiri pernah merasakan setelah landing ingin mencari teh hangat, kopi, atau wedangan,” ujar Lucia.
Menurutnya, angkringan dipilih karena identik dengan Yogyakarta, selain Malioboro, gudeg, dan Tugu. Konsep tersebut kemudian dikembangkan dengan menghadirkan minuman rempah sebagai salah satu ciri khas Angkringan Port.

Lucia menjelaskan, racikan rempah dibuat sendiri menggunakan sekitar 12 jenis rempah yang diperoleh dari petani dan pelaku UMKM. Beberapa pilihan yang tersedia antara lain rempah original, rempah jahe, rempah sereh, rempah susu, dan rempah kopi.
“Yang menjadi ciri khas kami adalah rempah kopi dan rempah susu. Kami meracik sendiri, mengolah sendiri, termasuk menentukan takaran jahenya, secangnya, dan cengkehnya,” katanya.
Selain minuman rempah, Angkringan Port menyediakan sejumlah menu makanan khas angkringan. Pilihannya antara lain nasi kucing, sayur lodeh, sate-satean, gorengan, tempe mendoan, tahu garuda isi daging, serta berbagai menu baceman seperti tahu dan tempe bacem.
Untuk sementara, harga nasi kucing dibanderol mulai Rp10.000. Angkringan Port juga menyediakan gorengan seperti tempe mendoan dengan sambal kecap, serta sejumlah makanan dari pelaku UMKM sebagai bagian dari upaya pemberdayaan usaha lokal.
Lucia menyebut Angkringan Port tidak hanya ditujukan untuk penumpang pesawat, tetapi juga karyawan bandara dan masyarakat yang membutuhkan tempat makan. Kehadiran usaha tersebut diharapkan dapat memberikan pilihan kuliner yang terjangkau sekaligus menghadirkan suasana khas Yogyakarta di lingkungan bandara.
“Harapannya semakin berkembang, tidak hanya di satu bandara. Kalau bisa nanti ada Angkringan Port di bandara lainnya,” ucapnya.

Angkringan Port beroperasi mulai pukul 05.00 WIB hingga malam hari menyesuaikan kondisi penerbangan. Penyesuaian waktu operasional dilakukan untuk mengakomodasi penumpang yang membutuhkan makanan saat pagi, malam, maupun ketika terjadi keterlambatan penerbangan.
Lucia berharap Angkringan Port dapat berkembang menjadi ikon kuliner khas Yogyakarta di kawasan bandara. Ia juga membuka peluang untuk memperluas konsep tersebut ke bandara lain.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....