Leker Masjid Syuhada, Saksi Perjuangan Sukiyo sejak 1978
- 27 Jul 2026 17:04 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Bau harum adonan leker tercium dari wajan besi di atas bara arang yang membara. Sukiyo, 65 tahun, dengan cekatan menuang adonan encer ke wajan panas itu, membentuknya jadi lembaran tipis yang kelak dilipat bersama pisang, coklat, atau keju — jajanan yang sudah ia jajakan sejak 1978, jauh sebelum sebagian besar pelanggannya hari ini lahir.
Perjalanan Sukiyo menekuni usaha leker dimulai sejak usia 18 tahun. Setelah beberapa kali berpindah tempat berjualan, ia akhirnya menetap di depan Masjid Syuhada, Kotabaru, Yogyakarta sejak 2005.
Resep leker Sukiyo tak banyak berubah sejak ia belajar bersama teman-teman sesama perantau asal Kulon Progo puluhan tahun lalu. Adonannya berupa campuran gandum dan tepung beras ditambah mentega, gula, telur, dan garam — komposisi sederhana yang menurutnya justru jadi kunci tekstur renyah yang bertahan meski leker sudah dingin. Ia juga masih setia memakai minyak kacang yang harus dipesan secara online dari Malang, karena menurutnya minyak jenis itu tak pernah tersedia di Yogyakarta.

Di antara sesama penjual leker asal Kulon Progo yang dulu ramai merantau ke Yogyakarta, kini tinggal Sukiyo yang bertahan memakai arang, sementara yang lain telah beralih ke kompor gas.
"Nggak bisa saya pakai gas," kata Sukiyo, yang mengaku di rumah pun ia masih memasak menggunakan kayu bakar untuk keperluan sehari-hari. Baginya, bara arang bukan sekadar alat masak, melainkan cara yang sudah menyatu dengan tangannya sejak muda.
Pelanggan setia leker Sukiyo kebanyakan bukan anak-anak sekolah, melainkan orang-orang berusia lanjut yang sudah mengenal rasa dagangannya bertahun-tahun. Ia bahkan punya pelanggan yang selalu menyempatkan mampir setiap kali pulang dari Jakarta ke Yogyakarta. Soal varian topping, Sukiyo memilih tak menambah pilihan modern seperti selai stroberi yang kini banyak digemari penjual leker lain, sebab pelanggannya sendiri tak pernah memintanya.
"Wong (orang) tua-tua gak ada sing (yang) mau," ujar Sukiyo.

Di tengah harga bahan pokok yang terus merangkak naik, Sukiyo memilih mempertahankan harga leker di kisaran Rp2.500 hingga Rp3.000, jauh berbeda dari Rp25 saat pertama kali ia berjualan pada 1978. Ia sengaja tidak menaikkan harga karena khawatir kehilangan pelanggan yang selama ini setia.
Penghasilan boleh tak menentu, tapi rutinitas Sukiyo nyaris tak pernah putus. Enam hari dalam sepekan ia berjualan di depan Masjid Syuhada dari pagi hingga menjelang petang. Hanya pada Minggu jadwalnya berbeda: ia mulai lebih pagi di sekitar Gereja Kotabaru, lalu pindah ke Masjid Syuhada begitu siang menjelang, dan tutup lebih awal selepas tengah hari.
Meski target pembelinya terbatas pada kalangan usia lanjut, bukan anak muda yang jadi pasar utama jajanan kekinian, omzetnya tetap bisa menyentuh Rp400.000 saat ramai dan Rp200.000 saat sepi — angka yang membuktikan loyalitas pelanggan lama masih jadi modal paling berharga baginya.
Di balik kesederhanaan usahanya, ada kisah masa kecil yang jauh dari kata mudah. Sukiyo lahir pada 1961 di Kulon Progo, dari keluarga yang hanya mampu menyekolahkannya tak lebih dari kelas tiga sekolah dasar. Ia memilih merantau dan bekerja sejak usia 18 tahun, sebuah pengorbanan yang justru membuka jalan bagi adik-adiknya untuk mengenyam pendidikan hingga tamat SMA — sesuatu yang tak pernah bisa ia rasakan sendiri.
Setelah hampir lima puluh tahun berjualan leker, Sukiyo tetap setia dengan cara lama di tengah gempuran jajanan kekinian dan metode memasak yang lebih praktis. Wajan besi, bara arang, dan sepeda tua yang mengantarnya setiap pagi menjadi saksi bahwa bertahan dengan cara sederhana pun bisa menjadi bentuk keberhasilan tersendiri — diukur bukan dari seberapa besar usahanya berkembang, melainkan dari seberapa lama ia mampu bertahan dan tetap dipercaya pelanggan. (Fatimah/Fitriana)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....