Setengah Abad Racikan Gudeg Bu Yuni di Pasar Ngasem

  • 27 Jul 2026 13:05 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Asap panas mengepul dari kuali besar berisi gudeg krecek. Puji Wayuni, 65 tahun, mengaduk pelan sambil sesekali menyapa pembeli yang lewat di lapaknya, Pasar Ngasem. Tangan itu sudah lebih dari 50 tahun meracik gudeg, sejak ia lulus SD dan mulai ikut simboknya berjualan di pasar yang sama.

Kini simboknya sudah tiada. Puji Wayuni jadi satu-satunya anak perempuan yang meneruskan usaha itu. Setiap hari, dari jam tujuh pagi sampai tiga sore, ia duduk di lapak yang sama, menjual gudeg krecek, mangut, dan oseng-oseng tempe ke pembeli yang kebanyakan warga local.

“Dulu kan saya kelahiran 61. Terus lulus itu ikut simbok saya jualan,” kata Puji Wayuni

Bahan-bahan dagangannya ia pilih sendiri dari beberapa pasar. Beras dan sayuran ia beli langsung di Pasar Ngasem. Lele dan tempe ia ambil dari Pasar Kranggan, langganan yang sudah bertahun-tahun ia percaya kualitasnya. Racikan bumbu tetap ia jaga sesuai warisan simboknya, tanpa banyak berubah.

Usaha ini berjalan tanpa bantuan dari pemerintah. Puji Wayuni mengaku selama ini modal dan operasional lapak murni dari hasil jualan sendiri. Meski begitu, pelanggan tetap datang. Sebagian besar sudah langganan bertahun-tahun, terutama untuk beras, sembako, dan sayuran.

Tidak semua dagangan habis terjual. Saat gudeg dan lauk sisa tak bisa disimpan untuk besok hari, Puji Wayuni tidak membuangnya begitu saja. Ia membagikan sisa dagangan itu ke sesama pedagang di pasar yang memelihara ayam.

“Apa saja yang nggak tak masak, tak kasihkan ayam yang sering memelihara ayam. Ada yang menerima,” ujarnya.

Kelezatan gudeg racikan Puji Wayuni juga dirasakan wisatawan dari luar kota. Muhammad Fawwaz Hibatullah, wisatawan asal Blora yang akrab disapa Fawwaz, sengaja mampir ke lapak itu setelah mendapat rekomendasi dari teman dan membaca ulasan di media social.

“Bumbunya meresap, rasanya enak, dan suasananya membuat pengalaman makan jadi lebih berkesan,” kata Fawwaz yang tengah berlibur empat hari di Yogyakarta.

Fawwaz menilai gudeg Bu Yuni punya cita rasa otentik khas jogja dengan porsi yang pas. Ia juga menyukai suasana Pasar Ngasem yang menurutnya masih nyaman, bersih, dan kental nuansa tradisional dibandingkan pasar lain yang pernah ia kunjungi. Ia mengaku akan merekomendasikan gudeg Bu Yuni ke orang lain yang berkunjung ke Jogja.

Di usia 65 tahun, dengan rutinitas jualan yang sama sejak remaja, Puji Wayuni masih menyimpan satu harapan besar. Ia ingin suatu saat bisa berangkat umrah, bahkan haji, dari hasil jualan gudeg yang ia tekuni turun-temurun.

“Alhamdulillah, masih hidup niat saya mau umrah,” katanya sambal tersenyum. (Hendrawan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....